Inflasi Grosir Jepang Tembus 6,3% di Mei, Tertinggi dalam Tiga Tahun
Baca dalam 60 detik
- Kenaikan harga minyak akibat konflik Timur Tengah mendorong inflasi grosir Jepang ke level tertinggi sejak Maret 2023.
- Pelemahan yen memperparah lonjakan harga impor hingga 25,5%, menekan biaya produksi perusahaan Jepang.
- Bank of Japan diperkirakan akan menaikkan suku bunga acuan dalam waktu dekat untuk mengendalikan tekanan inflasi.

Bank of Japan (BOJ) melaporkan bahwa indeks harga grosir domestik pada Mei 2026 melonjak 6,3 persen secara tahunan, laju tercepat dalam lebih dari tiga tahun terakhir. Lonjakan ini dipicu oleh kenaikan harga produk minyak bumi yang terkait erat dengan eskalasi konflik di Timur Tengah, sekaligus menandai tekanan inflasi yang semakin menguat di negeri Sakura.
Data yang dirilis Rabu (10/6) tersebut menunjukkan percepatan signifikan dibandingkan revisi angka April yang sebesar 5,3 persen. Kenaikan ini menjadi yang tertinggi sejak Maret 2023, mencerminkan beban biaya yang terus membesar bagi perusahaan-perusahaan Jepang, terutama yang bergantung pada impor energi dan bahan baku dari kawasan Timur Tengah.
Kondisi ini kian rumit dengan depresiasi yen terhadap dolar Amerika Serikat. Nilai tukar yang melemah membuat harga barang impor melonjak 25,5 persen secara tahunan, rekor tertinggi sejak November 2022. Sementara itu, harga ekspor juga naik 20,6 persen, mengindikasikan bahwa tekanan biaya mulai merembet ke perdagangan internasional Jepang.
Menurut sumber yang dekat dengan BOJ, bank sentral diperkirakan akan menaikkan suku bunga acuan pada pertemuan kebijakan berikutnya. Langkah ini dinilai perlu untuk mengantisipasi risiko inflasi yang dipicu oleh tingginya harga minyak mentah global. Jika terealisasi, ini akan menjadi pengetatan moneter lanjutan setelah BOJ mulai meninggalkan kebijakan suku bunga negatif pada awal tahun ini.
Bagi Indonesia, perkembangan ini memberikan sinyal waspada. Sebagai sesama negara pengimpor minyak, Indonesia juga menghadapi tekanan serupa dari kenaikan harga energi global. Depresiasi rupiah terhadap dolar AS semakin memperberat biaya impor, termasuk untuk bahan baku industri dan energi. Jika BOJ menaikkan suku bunga, arus modal asing berpotensi beralih ke Jepang, menekan nilai tukar rupiah lebih lanjut. Bank Indonesia perlu mencermati langkah BOJ untuk menjaga stabilitas nilai tukar dan inflasi domestik.
Ke depan, pertanyaan kuncinya adalah sejauh mana BOJ akan menaikkan suku bunga tanpa mengganggu pemulihan ekonomi domestik. Sementara itu, ketegangan geopolitik di Timur Tengah masih belum mereda, membuat prospek harga minyak tetap volatil. Bagi Indonesia, antisipasi terhadap dampak rambatan inflasi global menjadi semakin krusial, terutama dalam menjaga daya beli masyarakat dan momentum pertumbuhan ekonomi.



