AfDB Gelontorkan Rp1,3 Triliun untuk Kawasan Agroindustri Nigeria: Target Produksi Pangan Terintegrasi
Baca dalam 60 detik
- AfDB telah mengalokasikan 86 juta dolar AS untuk program SAPZ di Nigeria, dengan tingkat penyerapan baru 12 persen.
- IFAD menambah komitmen 50 juta dolar AS, menjadikan total pendanaan lebih dari 136 juta dolar AS untuk transformasi agroindustri.
- Program ini diharapkan mendorong substitusi impor, menciptakan lapangan kerja, dan memperkuat rantai nilai pangan di Afrika.

Bank Pembangunan Afrika (AfDB) memastikan komitmen pendanaan sebesar 86 juta dolar AS untuk program Kawasan Khusus Pengolahan Agro-Industri (SAPZ) di Nigeria hingga 31 Maret lalu. Langkah ini menjadi bagian dari upaya strategis memperkuat ketahanan pangan dan mendorong industrialisasi pertanian di benua Afrika.
Dalam pertemuan tinjauan tengah periode SAPZ di Abuja, Manajer Dukungan Implementasi AfDB Nigeria, Orison Amu, mengungkapkan bahwa tingkat komitmen program baru mencapai 41 persen, sementara realisasi penyaluran dana baru 12 persen atau setara 25 juta dolar AS. Meski begitu, AfDB menargetkan komitmen naik menjadi 70 persen dan penyaluran mencapai 35 persen pada akhir 2026.
Program SAPZ merupakan inisiatif unggulan AfDB yang mengelompokkan kegiatan pengolahan hasil pertanian di wilayah-wilayah potensial. Dengan infrastruktur modern, kawasan ini dirancang untuk menekan risiko investasi di rantai nilai pertanian dan menciptakan sinergi antara petani, pengolah, dan pedagang. Amu menambahkan, program ini juga sejalan dengan Agenda 2050 Nigeria yang menekankan penguatan keterkaitan rantai nilai, promosi bahan baku lokal, dan adopsi teknologi.
Direktur Negara Dana Internasional untuk Pembangunan Pertanian (IFAD) untuk Nigeria, Dede Ekoue, menegaskan bahwa organisasinya telah menyetujui tambahan 50 juta dolar AS untuk SAPZ. Sebelumnya, IFAD telah menandatangani komitmen senilai 50 juta dolar AS. Ekoue menekankan bahwa IFAD berkomitmen membuka peluang bagi petani kecil, perempuan, pemuda, dan wirausaha perdesaan di negara bagian Kano dan Ogun.
βKami melihat SAPZ sebagai platform penting untuk menghubungkan produsen ke pasar, mengurangi susut pascapanen, merangsang investasi swasta, menciptakan lapangan kerja, dan memperkuat sistem pangan secara komersial dan inklusif,β ujar Ekoue dalam pernyataan yang dibacakan oleh Isaac Mensah. Ia juga mengingatkan pentingnya kesiapan kelembagaan, disiplin fiskal, serta perlindungan lingkungan dan sosial agar program berkelanjutan.
Sejauh ini, komponen SAPZ yang didanai IFAD di Kano dan Ogun telah menjangkau lebih dari 17.000 petani kecil dengan layanan dukungan pertanian. Lebih dari 14.000 petani menerima layanan informasi iklim untuk meningkatkan produktivitas, sementara 9.000 petani telah memperoleh input pertanian yang meningkatkan hasil panen. Program ini juga menghubungkan petani dengan pasar agroindustri melalui Forum Agribisnis Multi-Pemangku Kepentingan (MAF).
Bagi Indonesia, pengalaman Nigeria dalam mengimplementasikan SAPZ menawarkan pelajaran berharga. Dengan potensi pertanian yang besar, Indonesia dapat mengadopsi pendekatan klaster agroindustri untuk mengurangi ketergantungan impor pangan dan meningkatkan nilai tambah produk lokal. Keterlibatan lembaga multilateral seperti AfDB dan IFAD juga menunjukkan pentingnya kolaborasi internasional dalam membiayai transformasi sektor pertanian.
Ke depan, keberhasilan SAPZ akan sangat bergantung pada percepatan penyaluran dana, penguatan kapasitas petani, serta integrasi pasar. Pertanyaannya, mampukah Nigeria mengatasi hambatan birokrasi dan infrastruktur untuk mewujudkan ambisi agroindustri yang inklusif dan berdaya saing?



