Xi Jinping Tegaskan China-Korea Utara Bersatu Lawan Hegemoni Global
Baca dalam 60 detik
- Presiden China Xi Jinping menyatakan akan mempererat hubungan dengan Korea Utara dalam kunjungan dua hari ke Pyongyang, pertama dalam tujuh tahun.
- Kedua negara sepakat menentang hegemoni, otoritarianisme, dan upaya membangkitkan militerisme yang mengancam stabilitas regional.
- Langkah ini dipandang sebagai upaya Beijing menarik Pyongyang kembali ke orbitnya di tengah persaingan geopolitik dengan AS.
Presiden China Xi Jinping menegaskan komitmennya untuk meningkatkan hubungan bilateral dengan Korea Utara, seraya menyatakan kedua negara akan bersama-sama melawan hegemoni dan segala upaya menghidupkan kembali militerisme di kawasan. Pernyataan itu dimuat di surat kabar resmi Korea Utara, Rodong Sinmun, pada Senin (8/6), menjelang kunjungan kenegaraan Xi ke Pyongyang yang pertama dalam tujuh tahun terakhir.
Dalam artikel opini yang ditulisnya, Xi menyebut penguatan hubungan dengan Korea Utara sebagai kebijakan yang tak tergoyahkan dari Partai Komunis China. Ia menekankan pentingnya memperluas kerja sama di segala bidang untuk mendorong tatanan global yang adil dan setara. “Kita harus menentang hegemoni, otoritarianisme, dan segala konspirasi untuk membangkitkan militerisme yang membahayakan keamanan dan stabilitas regional,” tulis Xi, seperti dikutip Rodong Sinmun.
Kunjungan Xi ke Pyongyang dijadwalkan berlangsung selama dua hari dan akan menjadi pertemuan tatap muka pertamanya dengan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un sejak 2019. Langkah ini dipandang sebagai bagian dari upaya Beijing untuk kembali menarik Pyongyang ke dalam lingkaran pengaruhnya setelah hubungan kedua negara sempat mendingin akibat pandemi COVID-19. Selama pandemi, perbatasan China-Korea Utara ditutup ketat dan pertukaran diplomatik hampir terhenti total.
Dalam pernyataannya, Xi juga berjanji akan bekerja sama dengan Korea Utara untuk mendorong multilateralisme yang adil dan tertib, serta globalisasi ekonomi yang inklusif. Ia menyebut visi “komunitas dengan masa depan bersama bagi umat manusia” sebagai landasan kerja sama tersebut. Retorika ini sejalan dengan narasi Beijing yang kerap mengkritik dominasi Amerika Serikat dalam tatanan global.
Pakar hubungan internasional menilai kunjungan Xi ke Pyongyang memiliki makna strategis di tengah meningkatnya persaingan antara China dan AS di kawasan Asia Timur. “China ingin menunjukkan bahwa ia memiliki sekutu yang solid di kawasan, terutama saat AS memperkuat aliansi dengan Jepang dan Korea Selatan,” ujar seorang analis dari Universitas Indonesia. Bagi Indonesia, dinamika ini patut dicermati karena dapat memengaruhi stabilitas keamanan di Laut China Selatan dan arus perdagangan regional.
Sebelumnya, pada 2024, Xi menjamu Kim Jong Un dan sejumlah pemimpin negara lain dalam parade militer besar-besaran di Beijing. Saat itu, Xi berdiri berdampingan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin, menandakan kedekatan antara Beijing, Pyongyang, dan Moskow. Setelah parade tersebut, Korea Utara mulai mengizinkan kembali perlintasan di perbatasan dengan China dan meningkatkan pertukaran ekonomi, yang sempat terhenti total selama pandemi.
Kunjungan Xi kali ini diperkirakan akan membahas kerja sama ekonomi, bantuan pangan, dan kemungkinan dukungan China terhadap program rudal Korea Utara. Namun, hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari kedua pihak mengenai agenda spesifik pertemuan. Yang jelas, pernyataan Xi tentang “melawan hegemoni” menjadi sinyal kuat bahwa China dan Korea Utara akan semakin erat dalam menghadapi tekanan internasional.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah sejauh mana China bersedia mendukung ambisi nuklir Korea Utara, dan bagaimana respons Amerika Serikat serta sekutunya terhadap poros Beijing-Pyongyang yang semakin solid. Bagi Indonesia, menjaga keseimbangan hubungan dengan semua pihak menjadi kunci agar tidak terseret dalam pusaran rivalitas global.


