Tiga ABK India Hilang Usai Kapal Tanker Dibom AS di Teluk Oman
Baca dalam 60 detik
- Militer AS melumpuhkan kapal tanker Settebello di Teluk Oman dengan tembakan presisi ke ruang mesin setelah awak dianggap tidak mematuhi instruksi blokade.
- Tiga dari 24 awak kapal berbendera Palau itu dilaporkan hilang, sementara 21 lainnya berhasil dievakuasi; Pemerintah India memprotes tindakan tersebut.
- Insiden ini mempertegas ketegangan AS-Iran yang kian memanas, dengan blokade Selat Hormuz yang mengancam pasokan minyak global.

Militer Amerika Serikat kembali melancarkan aksi militer di perairan Timur Tengah dengan melumpuhkan sebuah kapal tanker minyak di Teluk Oman yang dituduh melanggar blokade yang diterapkan Washington terhadap Iran. Kapal berbendera Palau, Settebello, menjadi sasaran tembakan presisi dari pesawat tempur AS setelah awaknya dinilai berulang kali mengabaikan perintah untuk menghentikan laju kapal.
Komando Pusat Amerika Serikat (Centcom) dalam pernyataan resminya mengonfirmasi bahwa pesawat tempur menembakkan amunisi presisi ke ruang mesin kapal tersebut. Langkah ini diambil setelah upaya komunikasi dan peringatan dari pasukan AS tidak diindahkan. Sejak blokade diberlakukan pada 13 April, militer AS mengaku telah melumpuhkan delapan kapal dan mengalihkan 134 kapal lainnya yang mencoba melanggar aturan.
Pemerintah India, melalui pernyataan resmi, mengungkapkan bahwa tiga dari 24 awak kapal Settebello yang merupakan warga negara India dilaporkan hilang. Sementara itu, 21 awak lainnya berhasil dievakuasi dan dalam kondisi selamat. New Delhi mengecam keras tindakan tersebut dan menegaskan bahwa penargetan terhadap kapal komersial dan infrastruktur sipil di kawasan harus segera dihentikan.
Tak hanya itu, insiden ini memicu langkah diplomatik India yang memanggil kuasa usaha Kedutaan Besar AS di New Delhi untuk meminta klarifikasi. Sebelumnya, pada pekan yang sama, kapal tanker lain berbendara Palau, Marivex, yang juga diawaki oleh warga India, menjadi sasaran tembakan serupa di perairan yang sama. Seluruh 24 awak Marivex berhasil diselamatkan oleh militer Oman.
Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran menunjukkan eskalasi yang semakin sulit dikendalikan. Presiden Donald Trump, dalam pernyataannya, mengancam akan menghajar Iran dengan keras dan menuduh Tehran memperlambat proses negosiasi perjanjian damai. Ancaman ini muncul setelah serangkaian serangan balasan antara kedua pihak, termasuk jatuhnya sebuah helikopter Amerika pada Senin lalu yang dituding Iran sebagai pelanggaran gencatan senjata.
Konflik besar pecah pada 28 Februari setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan udara ke Iran yang berujung pada tewasnya pemimpin tertinggi negara itu. Iran membalas dengan meluncurkan serangan ke Israel dan negara-negara sekutu AS di Teluk. Pertempuran dengan cepat meluas ke kawasan, termasuk Lebanon yang terseret pada Maret lalu. Gencatan senjata yang disepakati pada April hanya bertahan dua pekan sebelum kembali dilanggar.
Bagi Indonesia, eskalasi di Teluk Oman dan Selat Hormuz menjadi perhatian serius. Sebagai negara pengimpor minyak, setiap gangguan di jalur strategis ini berpotensi mendongkrak harga energi domestik dan mengerek biaya logistik. Pemerintah Indonesia perlu mencermati dinamika ini untuk mengantisipasi dampak terhadap neraca perdagangan dan stabilitas harga BBM di dalam negeri.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah apakah blokade AS akan semakin memperparah krisis kemanusiaan dan ekonomi di Iran, atau justru memicu respons militer yang lebih besar dari Tehran. Sementara itu, nasib tiga awak India yang hilang masih belum diketahui, dan tekanan diplomatik terhadap Washington diperkirakan akan terus meningkat.



