Peru Pilih Presiden ke-9 dalam Satu Dekade: Kejahatan dan 30% Pemilih Galau Warnai Pilpres
Baca dalam 60 detik
- Keiko Fujimori dan Roberto Sanchez bersaing ketat di putaran kedua pilpres Peru, dengan sekitar 30% pemilih belum menentukan pilihan.
- Kekhawatiran utama pemilih adalah kriminalitas yang merajalela, termasuk pemerasan dan tambang emas ilegal yang mendanai kelompok kriminal.
- Hasil pemilu diperkirakan baru diketahui beberapa hari ke depan, mengingat pengalaman sebelumnya yang memakan waktu lebih dari sebulan.

Peru kembali memasuki babak baru ketidakstabilan politik. Warga negara itu, Minggu (8/6), memberikan suara dalam putaran kedua pemilihan presiden yang mempertemukan dua kandidat dengan latar belakang kontrasโKeiko Fujimori, putri mantan presiden otoriter, dan Roberto Sanchez, sekutu dekat mantan presiden yang kini dipenjara. Ini menjadi pemimpin kesembilan Peru dalam sepuluh tahun terakhir, sebuah rekor yang mencerminkan krisis kepercayaan terhadap institusi politik di negara Andes tersebut.
Lebih dari 27 juta warga terdaftar sebagai pemilih, namun antusiasme tampak rendah. Di ibu kota Lima, banyak tempat pemungutan suara sepi, meskipun pemilu bersifat wajib. Sekitar 30% pemilih masih bimbang hingga hari-H, menurut jajak pendapat Ipsos. Angka ini menjadi penentu dalam persaingan yang diprediksi sangat ketat. Pada putaran pertama April lalu, Fujimori hanya meraih 17% suara dan Sanchez 12%โkeduanya kalah dari 33 kandidat lain jika digabung, namun lolos karena sistem dua putaran.
Kejahatan menjadi isu sentral. Survei nasional 2025 menunjukkan 84% responden di perkotaan merasa terancam menjadi korban kejahatan. Ekstorsi merajalela, didorong oleh kelompok kriminal yang meraup untung dari tambang emas ilegal di Andes dan Amazon. Fujimori menjanjikan pendekatan keras: teknologi pelacak pemerasan, militerisasi perbatasan, dan pengerahan polisi-tentara di zona rawan. Ia juga mewajibkan narapidana bekerja. Sanchez, sebaliknya, fokus pada pemberantasan korupsi di kepolisian dan reformasi yang memungkinkan militer membantu keamanan.
Di balik janji-janji itu, bayang-bayang masa lalu membayangi. Fujimori adalah putri Alberto Fujimori, yang memerintah dengan tangan besi pada 1990-an dan kini dihukum karena korupsi serta pelanggaran HAM. Sanchez adalah sekutu Pedro Castillo, presiden yang digulingkan dan dipenjara karena tuduhan korupsi dan pemberontakan. Castillo memecat lebih dari 70 menteri dalam 16 bulan masa jabatannya. "Lima tahun lalu saya kecewa dengan Castillo, dan Sanchez sama saja," ujar Magali Quiquia, pedagang makanan di Lima, yang memilih suara kosong.
Bagi investor, Sanchez menjadi sumber kekhawatiran. Ia mendukung investasi China dan sempat menyatakan tidak akan menasionalisasi perusahaan tambang asing. Namun, rekam jejaknya yang dekat dengan Castillo membuat pasar waspada. Sementara itu, Duta Besar AS untuk Peru, Bernie Navarro, mengunjungi tempat pemungutan suara dan menyatakan Washington siap bekerja sama dengan siapa pun yang menang.
Hasil resmi diperkirakan baru keluar dalam beberapa hari. Pengalaman putaran pertama menunjukkan, butuh lebih dari sebulan untuk mengumumkan pemenang. Siapa pun yang menang akan dilantik bulan depan dan langsung menghadapi tugas berat: mengembalikan kepercayaan publik, menekan angka kejahatan, dan menstabilkan ekonomi yang tertekan. Akankah presiden baru mampu memutus siklus ketidakstabilan yang sudah berlangsung satu dekade? Atau Peru akan kembali berganti pemimpin dalam waktu singkat?


