Bencana di Wall Street: Saham Chip Anjlok, Rp 16.000 Triliun Menguap dalam Sehari
Baca dalam 60 detik
- Indeks PHLX sektor semikonduktor ambles 8,5% dalam sehari, menghapus lebih dari US$1 triliun nilai pasar saham chip AS.
- Broadcom menjadi pemicu utama setelah laporan kuartalannya mengecewakan, diikuti aksi jual besar-besaran terhadap Nvidia, AMD, dan Micron.
- Kekhawatiran suku bunga tinggi dan valuasi saham teknologi yang mahal memperburuk sentimen, mengancam kelanjutan reli AI.
Lonjakan aksi jual saham produsen chip di Amerika Serikat pada Jumat lalu (6/6/2025) menghancurkan lebih dari US$1 triliun nilai pasar hanya dalam satu sesi perdagangan, menjadikannya salah satu hari terburuk bagi sektor semikonduktor sejak gejolak tarif pada April lalu. Indeks PHLX Semiconductor Sector merosot nyaris 8,5% pada perdagangan sore, memperpanjang kerugian hari sebelumnya yang dipicu oleh laporan keuangan mengecewakan dari Broadcom.
Kerugian dua hari berturut-turut ini mengindikasikan bahwa investor mulai kehilangan kesabaran terhadap saham teknologi yang sudah melambung tinggi, tepat ketika Elon Musk bersiap meluncurkan IPO SpaceX pekan depan dengan valuasi fantastis US$1,75 triliun. "Banyak orang yang selama ini asal beli saat harga turun. Strategi itu memang menguntungkan, tetapi hari ini berakhir sudah," ujar Dennis Dick, trader properti di Triple D Trading.
Nvidia, produsen chip paling bernilai di dunia, ambles sekitar 6% dan kehilangan lebih dari US$300 miliar kapitalisasi pasar. Micron Technology terjun 11%—menguapkan US$127 miliar—sementara Marvell Technology yang sempat menjadi primadona investor merosot 12%, dan AMD tergerus 10,5%. Broadcom sendiri, yang menjadi biang kerok awal, turun 7,5% pada Jumat sehingga total kerugian dua harinya mencapai 19%.
Tekanan tambahan datang dari data tenaga kerja AS yang lebih kuat dari perkiraan, memicu kekhawatiran bahwa Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Indeks S&P 500 ikut tertekan 2,3%. Bagi pelaku pasar, sinyal ini memperkuat narasi bahwa reli saham AI yang berlangsung selama setahun terakhir mungkin sudah terlalu panas. Valuasi yang mahal dan ekspektasi pertumbuhan yang sulit dipenuhi menjadi kombinasi berbahaya.
Di Indonesia, gejolak ini berpotensi mengguncang portofolio investor ritel dan institusi yang memiliki eksposur terhadap saham teknologi global melalui reksa dana atau ETF. Meskipun pasar modal domestik relatif terisolasi, sentimen negatif dari Wall Street kerap menular ke bursa Asia, termasuk IHSG. Investor Indonesia disarankan mencermati pergerakan saham emiten teknologi di dalam negeri yang terafiliasi dengan rantai pasok semikonduktor global.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah aksi jual ini hanya koreksi sementara atau awal dari pembalikan tren jangka panjang. Dengan IPO SpaceX yang akan datang dan potensi kejutan dari laporan keuangan perusahaan AI lainnya, volatilitas diperkirakan masih tinggi. Pasar seakan mengirim pesan: tidak ada saham yang kebal terhadap gravitasi valuasi.



