Malaysia Siap Gantikan Bahrain Gelar Grand Prix F1 Oktober Mendatang
Baca dalam 60 detik
- Sirkuit Sepang akan menjadi tuan rumah pengganti Grand Prix Bahrain pada 2-4 Oktober, menggeser jadwal yang sempat tertunda akibat konflik di Timur Tengah.
- F1 berpotensi kehilangan empat seri di kawasan Teluk, memaksa kalender menyusut menjadi 20 balapan—di bawah ambang batas kontrak yang berdampak pada hak siar dan sponsor.
- Ketidakpastian masih menyelimuti seri penutup di Qatar dan Abu Dhabi, dengan Imola sebagai opsi paling realistis untuk mengamankan jumlah balapan minimal 21.

Malaysia kembali dipastikan menjadi tuan rumah Grand Prix Formula 1 pada Oktober tahun ini, menggantikan Bahrain yang batal digelar akibat perang yang berkecamuk di Timur Tengah. Sirkuit Sepang di dekat Kuala Lumpur akan menggelar balapan pada 2-4 Oktober, sepekan sebelum seri di Singapura, dengan tajuk resmi sebagai Grand Prix Bahrain yang digelar di Malaysia.
Keputusan ini diambil setelah Bahrain dan Arab Saudi terpaksa menunda balapan April mereka menyusul serangan militer AS-Israel terhadap Iran. F1 sempat berharap Bahrain bisa kembali dijadwalkan pada Oktober, namun tenggat logistik yang mendesak dan belum ada tanda-tanda gencatan senjata memaksa perubahan haluan. Seri ini akan diumumkan secara resmi dalam beberapa hari ke depan, meski masih menunggu persetujuan akhir dari FIA.
Dengan masuknya Malaysia, kalender F1 akan mencatat tiga pekan beruntun: Azerbaijan, Malaysia, dan Singapura. Namun, konflik yang sama juga mengancam dua seri penutup musim di Qatar (akhir November) dan Abu Dhabi (awal Desember). Keputusan atas kedua balapan itu baru akan diambil pada September, namun F1 sudah menyiapkan alternatif. Imola di Italia menjadi opsi utama, meski Portimao (Portugal) dan Istanbul Park (Turki) juga masuk daftar—keduanya terhalang oleh proyek konstruksi yang tengah berjalan untuk kembali ke kalender tahun depan.
Bagi penggemar F1 di Indonesia, kehadiran Malaysia sebagai tuan rumah adalah angin segar. Sirkuit Sepang yang berjarak tempuh singkat dari Jakarta via penerbangan langsung bisa menjadi destinasi favorit bagi para penggemar yang ingin menyaksikan aksi Lewis Hamilton, Max Verstappen, dan pembalap lainnya secara langsung. Selain itu, stasiun televisi nasional yang memegang hak siar F1 juga diuntungkan dengan kepastian jadwal, meski jumlah total balapan musim ini belum final.
Menurut analis olahraga otomotif, langkah F1 memindahkan balapan ke Malaysia menunjukkan fleksibilitas tinggi dalam menghadapi krisis geopolitik. “Keputusan ini tidak mudah karena menyangkut kontrak komersial dan logistik tim. Namun, Malaysia memiliki rekam jejak panjang sebagai tuan rumah yang andal,” ujar seorang sumber di paddock yang enggan disebut namanya. Sirkuit Sepang sendiri pertama kali menggelar F1 pada 1999 dan terakhir pada 2017, saat Max Verstappen meraih kemenangan keduanya di ajang ini.
Ke depan, F1 masih bergantung pada perkembangan situasi di Timur Tengah. Jika Qatar dan Abu Dhabi juga batal, maka balapan di Imola pada awal Desember akan menjadi penyelamat. Namun, kepadatan jadwal dan kondisi cuaca di Eropa saat musim dingin menjadi tantangan tersendiri. Pertanyaan besarnya: bisakah F1 mempertahankan jumlah balapan yang layak tanpa mengorbankan kualitas dan keselamatan?



