Yellow Run 2026 Tanam 4.444 Beringin: Lari untuk Lingkungan, Bukan Sekadar Olahraga
Baca dalam 60 detik
- Yellow Run 2026 menanam 4.444 pohon beringin di GBK sebagai simbol kepedulian peserta terhadap lingkungan, dengan dana dari pendaftaran.
- Pohon beringin dipilih karena kemampuannya menyerap air dan memberikan keteduhan, memberikan dampak ekologis jangka panjang.
- Acara yang diikuti hampir 11.000 pelari ini menggabungkan gaya hidup sehat dengan aksi nyata penghijauan, menciptakan warisan lingkungan.

Sebanyak 4.444 bibit pohon beringin ditanam di kawasan Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta, Minggu (7/6), sebagai bagian dari rangkaian Yellow Run 2026. Langkah ini bukan sekadar seremoni, melainkan simbol konkret bahwa komunitas pelari Indonesia memiliki kepedulian terhadap kelestarian lingkungan.
Ketua Komisi XI DPR RI Mukhamad Misbakhun, yang turut hadir bersama Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sekaligus Ketua Umum Partai Golkar Bahlil Lahadalia, menegaskan bahwa ribuan bibit tersebut merupakan sumbangan dari para peserta lomba. "Kalian para runners telah mempedulikan lingkungan hidup. Para runners telah menyumbang 4.444 pohon beringin," ujarnya di atas panggung. Menurut Misbakhun, aksi ini menunjukkan bahwa olahraga lari bisa menjadi kendaraan untuk aksi lingkungan yang berkelanjutan.
Pemilihan pohon beringin bukan tanpa alasan. Tanaman ini dikenal sebagai pohon peneduh yang efektif menyerap dan menyimpan cadangan air. Akarnya yang kuat juga berperan dalam menjaga ketersediaan air tanah dan mencegah erosi. Dengan demikian, ribuan bibit yang ditanam diharapkan tidak hanya memberikan keteduhan, tetapi juga membantu menjaga keseimbangan ekosistem di Jakarta dan sekitarnya.
Yellow Run 2026 yang digelar di Plaza Parkir Timur GBK ini mengusung tema gaya hidup sehat yang terintegrasi dengan kepedulian lingkungan. Penyelenggara sengaja merancang agar manfaat acara tidak berhenti pada kegiatan olahraga semata, melainkan memberikan dampak jangka panjang bagi masyarakat. Program donasi bibit pohon ini menjadi salah satu cara untuk memastikan bahwa setiap langkah pelari turut berkontribusi pada penghijauan perkotaan.
Dalam konteks Indonesia, di mana urbanisasi dan alih fungsi lahan kerap mengancam ruang terbuka hijau, inisiatif seperti ini menjadi relevan. Jakarta, sebagai kota dengan tingkat polusi udara yang tinggi, sangat membutuhkan tambahan vegetasi untuk menyerap karbon dioksida dan menghasilkan oksigen. Penanaman pohon beringin di area publik seperti GBK juga dapat menjadi contoh bagi acara olahraga lain untuk mengadopsi program serupa.
Ke depan, ribuan bibit yang ditanam dan didonasikan diharapkan tumbuh menjadi pohon dewasa yang bermanfaat. Namun, tantangan terbesar adalah perawatan berkelanjutan. Tanpa pemeliharaan yang konsisten, bibit-bibit tersebut bisa mati sebelum memberikan manfaat optimal. Pertanyaannya, apakah akan ada program monitoring dan perawatan jangka panjang dari penyelenggara atau pemerintah daerah? Jika ya, Yellow Run 2026 bisa menjadi model bagi event olahraga lain yang ingin meninggalkan warisan hijau, bukan sekadar jejak kaki.



