Super El Nino di Depan Mata: Malaysia Diimbau Segera Bersiap Hadapi Krisis Air dan Kabut Asap
Baca dalam 60 detik
- Para ahli iklim memperkirakan fenomena Super El Nino melanda Malaysia antara Oktober 2026 hingga Januari 2027, bertepatan dengan musim monsun timur laut.
- Super El Nino berpotensi mengurangi curah hujan hingga 20%, mengancam pasokan air bersih dan memicu kebakaran hutan yang menghasilkan kabut asap lintas batas.
- Sejumlah waduk di Malaysia sudah berada di level kritis atau siaga, menandakan kerentanan sistem air jika fenomena ekstrem benar-benar terjadi.

Malaysia harus bersiap menghadapi Super El Nino yang diprediksi terjadi pada akhir tahun ini, sebuah fenomena iklim ekstrem yang dapat memicu kekurangan air bersih dan kabut asap lintas batas, demikian peringatan para pakar.
Dr Zulfaqar Saโadi, dosen senior di Institut Perubahan Iklim Universitas Kebangsaan Malaysia (UKM), menjelaskan bahwa Organisasi Meteorologi Dunia dan Badan Meteorologi Malaysia memperkirakan Super El Nino akan berlangsung antara Oktober 2026 dan Januari 2027. Waktu ini bertepatan dengan musim monsun timur laut yang biasanya membawa hujan lebat. Namun, Zulfaqar mengkhawatirkan dampak setelah monsun, terutama pada Maret dan April, saat curah hujan di Semenanjung Malaysia cenderung menurun drastis.
โJika Super El Nino mengurangi curah hujan selama monsun, cadangan air mungkin tidak mencukupi untuk bulan-bulan berikutnya,โ ujarnya. Ia mendesak otoritas untuk berhati-hati dalam melakukan pelepasan air terkendali dari waduk menjelang monsun, karena biasanya dilakukan untuk mencegah banjir, namun kali ini risiko kekeringan lebih dominan.
Data terbaru menunjukkan beberapa waduk di Malaysia sudah berada di level mengkhawatirkan. Waduk Timah Tasoh di Perlis tercatat 27,54% dan Lebam di Johor 28,62%โkeduanya masuk kategori kritis. Sementara itu, waduk Gunung Pulai 2 dan Upper Layang di Johor, Ahning dan Beris di Kedah, serta Jus di Melaka berada di level siaga, dan Danau Muda di Kedah berada di level waspada.
Ahli meteorologi dari Universitas Malaya, Profesor Emeritus Datuk Dr Azizan Abu Samah, menyoroti risiko utama bukanlah banjir besar, melainkan kabut asap lintas batas dari Kalimantan dan Sumatra pada September mendatang, serta gelombang panas pada Februari atau Maret tahun depan. โMereka yang beraktivitas di luar ruangan sebaiknya memakai topi atau payung dan tetap terhidrasi,โ katanya. Sementara itu, klimatolog UKM Profesor Emeritus Dr Fredolin Tangang menambahkan bahwa kondisi basah yang tidak biasa di Lembah Klang belakangan ini adalah bagian dari fase awal El Nino yang dimulai Juni lalu. Ia memperingatkan cuaca akan menjadi lebih kering dan panas dalam beberapa bulan ke depan, berpotensi mengganggu pasokan air, mengurangi panen pertanian, dan menurunkan hasil tangkapan ikan.
Bagi Indonesia, fenomena ini memiliki dampak langsung. Kebakaran hutan dan lahan di Sumatra dan Kalimantan kerap diperparah oleh El Nino, menghasilkan kabut asap yang tidak hanya menjadi bencana domestik tetapi juga menyebar ke Malaysia dan Singapura. Pemerintah Indonesia perlu meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan untuk mencegah kebakaran, mengingat prediksi musim kemarau yang lebih kering dari biasanya. Selain itu, sektor agrikultur di Indonesia juga rentan terhadap kekeringan, yang dapat mengancam ketahanan pangan dan stabilitas harga.
Dengan perkiraan Super El Nino yang akan datang, pertanyaan mendesak adalah: sudahkah Malaysia dan Indonesia memiliki rencana kontingensi yang memadai untuk menghadapi krisis air, gagal panen, dan kabut asap? Para ahli mendesak tindakan pencegahan segera, termasuk pemantauan ketat cuaca, penyesuaian pelepasan air waduk, serta edukasi publik untuk mengurangi risiko.



