Dijual Rumah Demi Restoran, Magdalene Tang Bertahan 30 Tahun di Bisnis Kuliner Singapura
Baca dalam 60 detik
- Magdalene Tang menjual rumahnya pada 1997 untuk mengambil alih restoran wine bar yang didirikannya, yang kini telah beroperasi hampir tiga dekade.
- Setelah pindah ke Neil Road pada September 2025, Mag's kembali menarik pelanggan lama, termasuk kalangan profesional, meski margin keuntungan terus tertekan.
- Kisah Tang menjadi cermin bagi pelaku F&B di Indonesia yang juga bergulat dengan biaya operasional tinggi dan kesulitan regenerasi tenaga kerja.

Ia menjual rumah tinggalnya agar bisnisnya tak gulung tikar saat krisis Asia 1997. Kini, hampir 30 tahun berselang, Magdalene Tang masih berdiri di dapur Mag's, restoran independen di Singapura yang terus beradaptasi tanpa kehilangan jati diri.
Magdalene, 64 tahun, mantan pedagang valuta asing, pertama kali membuka Mag’s Wine Bar Bistro di Circular Road pada 1996. Saat itu, ia hanya bermodal kecintaan pada anggur. “Saya selalu tertarik pada anggur dan mengoleksinya, jadi saya membuka restoran sebagai tempat bagi orang lain menikmati apa yang saya sukai,” kenangnya. Namun, krisis 1997 membuat para mitra hengkang. Tanpa ragu, ia menjual rumah dan mengambil alih sepenuhnya, mengganti nama menjadi Mag’s Wine Kitchen untuk menekankan fokus pada makanan dan anggur.
Perjalanan itu tak pernah mulus. Dari resesi, perubahan kebiasaan konsumen, hingga pandemi COVID-19, Tang terus berinovasi. Pada 2019, restoran pindah ke Keong Saik Road dengan menu lebih halus, lalu pada September 2025 kembali pindah ke shophouse dua lantai di 82 Neil Road dan memendekkan nama menjadi Mag’s. Kini, hidangan seperti lobster risotto dan cold capellini dengan uni menjadi andalan, berkat sentuhan kepala chef Ian Tan yang menggabungkan teknik Jepang dengan pengaruh lokal Eropa.
Meski bertahan, tekanan industri terasa nyata. Secara ironis, Mag’s mencapai titik impas saat pandemi, tetapi justru merugi pada 2024. “Sangat memilukan bekerja keras tanpa bisa meraih hasil seperti dulu. Margin laba jauh lebih baik dari 2000 hingga 2015, saat sewa, tenaga kerja, dan biaya bahan lebih rendah,” ujar Tang terus terang. Persaingan ketat membuatnya sulit menaikkan harga, sehingga ia memilih menyerap kenaikan biaya demi tetap kompetitif.
Kisah Tang relevan bagi pelaku industri F&B di Indonesia, yang juga dihimpit kenaikan sewa dan upah, serta ketatnya persaingan. Banyak restoran lokal berjuang mempertahankan pelanggan di tengah menjamurnya tempat makan baru. Semangat Tang untuk tidak sekadar mengikuti tren, tetapi membangun loyalitas lewat “honest hospitality” bisa menjadi pelajaran.
Tang juga mengkritik kurangnya ketangguhan generasi muda. “Mereka hanya ingin melakukan yang mereka suka, tapi tidak mempelajari bisnisnya. Menjadi manajer seperti mengikuti buku teks, tetapi memahami bisnis, pelanggan, dan psikologi harga sangat penting untuk bertahan,” tegasnya. Meski demikian, ia tetap memberi ruang belajar dengan kesalahan.
Ke depan, Mag’s mengandalkan pelanggan setia. “Menariknya, banyak pelanggan yang sama dari Mag’s 1.0 kembali. Hari kerja dipenuhi makelar, bankir, dan pengacara, sementara akhir pekan lebih banyak keluarga,” kata Tang. Sebuah meja di dekat dapur yang dijuluki “Meja Teman” menjadi tempat favorit pengunjung solo. Di tengah arus yang cenderung menghargai yang murah dan cepat, Tang berpegang pada prinsip: hidangan jujur, anggur baik, dan keramahan tanpa pencitraan. Mampukah formula itu terus bertahan di industri yang kian pragmatis?



