Kemenangan Dramatis Joshua atas Prenga: Jalan Menuju Duel Fury Makin Berliku
Baca dalam 60 detik
- Anthony Joshua bangkit dari dua kali knockdown di runda awal untuk menghentikan Kristian Prenga di ronde kedua, namun performa goyah itu memicu keraguan baru.
- Kekhawatiran terhadap mental dan fisik Joshua muncul setelah ia mudah terluka oleh petarung kelas bawah, sementara Tyson Fury juga belum menunjukkan performa meyakinkan di laga pemanasan.
- Duel tersaji antara dua raksasa kelas berat Inggris kian dekat, tetapi catatan keduanya di laga terakhir membuat laga tersebut penuh tanda tanya besar.

Anthony Joshua selamat dari mimpi buruk di ronde pertama untuk mengunci kemenangan dramatis atas Kristian Prenga, namun laga itu justru membuka celah keraguan menjelang duel super melawan Tyson Fury. Baru 20 detik pertarungan berjalan, petinju asal Inggris itu sudah terkapar di kanvas setelah dihantam pukulan keras lawan. Kejutan belum berakhir: Joshua kembali jatuh di ronde yang sama, membuat mimpi pertarungan melawan Fury seolah sirna di tengah gurun Jeddah.
Namun, dalam sekejap, segalanya berbalik. Joshua bangkit dan menghantam Prenga dengan rentetan pukulan hingga wasit menghentikan pertarungan di ronde kedua. "Kekacauan total. Absolut gila," ujar mantan juara dunia kelas penjelajah Tony Bellew di DAZN, menggambarkan suasana pertarungan yang penuh kejutan. Kemenangan ini menjadi yang ke-30 bagi Joshua dalam karier profesionalnya, sekaligus menyelamatkan muka setelah periode kelam pasca kecelakaan mobil di Nigeria yang merenggut nyawa dua sahabat dekatnya.
Akan tetapi, di balik euforia comeback, analis tinju Steve Bunce mengingatkan sisi rentan Joshua. "Kita perlu melihat ronde pertama dan betapa mudahnya AJ terluka. Kita tidak bisa mengabaikannya," kata Bunce di BBC 5 Live. Lawannya, Prenga, memang memiliki rekor 20 kemenangan dengan 20 knockout, tetapi belum pernah bertarung di level elite. Fakta bahwa ia bisa menjatuhkan Joshua dua kali menimbulkan pertanyaan serius: seberapa siap fisik dan mental Joshua untuk menghadapi Tyson Fury?
Bagi penggemar tinju Indonesia, duel Joshua versus Fury telah dinanti sekian lama. Namun, setelah penampilan yang naik-turun ini, harapan akan pertarungan akbar justru diiringi kekhawatiran. Apakah Joshua—petinju yang pernah menjadi juara Olimpiade dan dua kali juara dunia kelas berat—masih memiliki kemampuan untuk mengalahkan lawan sekelas Fury? Atau justru pertarungan ini akan menjadi batu sandungan terakhir bagi karier legendarisnya? Di pasar olahraga Asia Tenggara, antusiasme terhadap tinju kelas berat tetap tinggi, dan hasil pertarungan ini akan menentukan arah petinju muda di kawasan.
Promotor Eddie Hearn mengungkapkan bahwa Joshua membawa beban emosional berat ke dalam ring. "Tinju pernah menyelamatkannya, dan ia membutuhkan tinju untuk melewati masa duka ini. Kamp pelatihan itu memungkinkannya fokus saat ia dilanda kesedihan," ujar Hearn. Joshua sendiri kesulitan bicara dalam wawancara usai pertandingan, suaranya bergetar saat mengenang kedua sahabat yang meninggal.
Sementara itu, Tyson Fury tidak tinggal diam. Dalam minggu yang sama, ia menjadwalkan pertarungan melawan Mariusz Wach, petinju berusia 46 tahun. Kemenangan ronde tujuh yang diraih Fury mendapat kritik karena dianggap hanya sebagai sesi tanding ringan. Namun, sejak awal, laga itu memang dirancang untuk menjaga kebugaran dan nama Fury tetap diperbincangkan. Yang lebih mengkhawatirkan adalah saat Fury menghadapi Arslanbek Makhmudov pada April lalu, ia tampil nyaman meskipun mulai menunjukkan tanda-tanda penurunan.
Pertanyaan kritis kini mengemuka: setelah penampilan yang gemilang namun cacat, apakah Joshua masih layak menjadi penantang Fury? Atau justru laga ini akan menjadi final pahit bagi salah satu petinju terbesar Inggris? Sejarah tinju penuh dengan kisah petarung yang bertahan terlalu lama. Namun, duel Fury-Joshua bukanlah pertarungan biasa—ia adalah pertarungan yang telah membayangi karier keduanya selama hampir satu dekade. Pertarungan yang akan menentukan siapa penguasa sejati kelas berat.



