Paparazzi di Luar Kendali, Jennifer Garner Dilarang Antar Anak ke Latihan Sepak Bola
Baca dalam 60 detik
- Jennifer Garner mengaku diminta berhenti mengantar anak-anaknya ke latihan sepak bola karena rombongan paparazzi yang selalu mengikutinya menimbulkan kekacauan.
- Aktris 54 tahun itu menyebut industri paparazzi telah 'di luar kendali', dengan puluhan mobil nekat melanggar lalu lintas demi mengikutinya.
- Fenomena ini menjadi pengingat bahwa tekanan media terhadap selebriti tidak hanya mengganggu privasi, tetapi juga membahayakan keselamatan anak-anak.

Jennifer Garner secara blak-blakan mengungkapkan bahwa ia dilarang mengantar anak-anaknya ke sesi latihan sepak bola karena kemunculannya selalu diikuti oleh puluhan mobil paparazzi yang menimbulkan kekacauan di lingkungan sekitar. Pengakuan ini disampaikan dalam podcast Shut Up Evan yang dipandu Evan Ross Katz, di mana ia merenungkan dampak luar biasa dari perhatian media yang diterimanya selama bertahun-tahun.
Menurut aktris yang pernah membintangi film The Five-Star Weekend itu, rombongan fotografer kerap bertindak nekat saat mengikutinya. "Jika saya menerobos lampu kuning, 15 mobil akan ikut menerobos lampu merah di belakang saya. Mereka bahkan sampai naik ke halaman rumput orang, meskipun di lereng bukit," ujarnya. Situasi itu memuncak ketika asosiasi sepak bola tempat anaknya berlatih meminta Garner berhenti datang karena setiap kali ia hadir, ada sekitar 20 mobil paparazzi yang ikut serta.
Garner, yang memiliki tiga anak dari pernikahannya dengan Ben Affleck—Violet (20), Fin (17), dan Samuel (14)—mengaku bahwa kondisi tersebut tidak hanya mengganggu, tetapi juga berbahaya. Ia mencontohkan saat harus membawa anaknya yang sakit ke dokter, tetapi pintu masuk rumah sakit terhalang oleh gerombolan fotografer. "Ada yang salah dengan itu, dan anak-anak yang menanggung akibatnya," tegasnya.
Meski menyadari dampaknya, Garner mengaku enggan mengeluh. "Rasanya seperti, 'Kasihan aku, anak-anakku yang malang yang memiliki segalanya di dunia,' tapi ini adalah bahaya bagi semua orang di sekitar kami," katanya. Ia menekankan bahwa industri paparazzi telah 'di luar kendali' dan bukan hanya soal dirinya sendiri, melainkan juga keselamatan publik.
Menariknya, setelah bertahun-tahun diburu, Garner mengembangkan hubungan yang rumit dengan fotografer langganannya. Ia menyebutnya sebagai "rasa hormat yang aneh". Bahkan, dalam satu insiden ketika ia merasa terancam oleh penguntit lain, Garner justru berlari ke arah fotografer tersebut karena ia mengenal dan mempercayainya. "Ada semacam sindrom Stockholm di sana," akunya. Meski begitu, ia juga tak ragu memanggil polisi untuk meminta fotografer itu menjauh saat ingin berjalan-jalan bersama anak-anak dan anjingnya.
Fenomena yang dialami Garner sebenarnya tidak asing di Indonesia. Sejumlah selebriti Tanah Air seperti Raffi Ahmad dan Nagita Slavina kerap menghadapi situasi serupa, di mana mobil paparazzi mengikuti mereka hingga ke tempat pribadi. Belum lama ini, artis Prilly Latuconsina juga menyoroti maraknya fotografer yang mengganggu aktivitas keluarganya. Sayangnya, regulasi perlindungan privasi selebriti di Indonesia masih lemah, sehingga batasan antara hak publik dan privasi individu kerap kabur. Kisah Garner menjadi pengingat bahwa tanpa aturan yang jelas, keluarga selebriti—terutama anak-anak—akan terus menjadi korban.
Ke depannya, pertanyaan besar yang mengemuka adalah: mampukah industri hiburan dan media massa berbenah untuk menciptakan ekosistem yang lebih manusiawi? Ataukah kita akan terus menyaksikan perburuan yang mengorbankan masa kecil anak-anak selebriti?



