Sharon Osbourne Bantah Tuduhan 'Cari Cuan' dari Proyek AI Ozzy Osbourne
Baca dalam 60 detik
- Sharon Osbourne menepis kritik yang menyebut proyek avatar AI Ozzy Osbourne sebagai upaya mencari keuntungan, menegaskan inisiatif itu untuk menjaga warisan sang legenda.
- Jack Osbourne, putra Ozzy, mengklaim proyek tersebut menggunakan 'closed AI' yang hanya memuat data autentik tentang ayahnya, sehingga dianggap lebih etis dan personal.
- Avatar digital Ozzy Osbourne dijadwalkan hadir di Inggris dan AS pada akhir musim panas mendatang, menandai babak baru dalam industri hiburan berbasis kecerdasan buatan.

Sharon Osbourne dengan tegas membantah tuduhan bahwa proyek avatar kecerdasan buatan (AI) mendiang suaminya, Ozzy Osbourne, hanyalah upaya 'mengeruk uang'—sebuah respons yang muncul setelah keluarga Osbourne mengumumkan rencana menghadirkan versi digital legenda Black Sabbath tersebut.
Dalam podcast The Osbournes, Sharon menjelaskan bahwa proyek ini lahir dari keinginan untuk memanfaatkan kemajuan teknologi demi menjaga ingatan tentang Ozzy tetap hidup, terutama bagi generasi cucu mereka. “Teknologi terus berkembang. Ada yang menuduh saya mencari cuan? Tidak. Anda tidak kenal suami saya. Dia sering bertanya, ‘Berapa lama aku akan dikenang?’” ujar Sharon. Baginya, proyek ini adalah warisan keluarga, bukan sekadar komoditas.
Jack Osbourne, putra Ozzy, menambahkan bahwa proyek ini akan dijalankan secara “tasteful” dengan menggunakan sistem AI tertutup (closed AI). Artinya, avatar tersebut tidak terhubung ke internet dan hanya mengandalkan database yang berisi pernyataan asli Ozzy atau informasi yang ditulis secara akurat tentang dirinya. “Ini bukan tentang berpura-pura dia masih hidup. Ini tentang memastikan dia tidak pernah dilupakan,” tegas Jack.
Proyek ini diumumkan dalam acara Licensing Expo bertajuk “The Enduring Legacy of a Rock Icon and His Family: Ozzy Osbourne and The Osbournes”. Sharon dan Jack mengonfirmasi bahwa “Digital Ozzy” sudah dalam tahap pengembangan mendalam melalui kemitraan antara Hyperreal dan Proto Hologram. Teknologi ini memungkinkan avatar untuk mengadakan percakapan dengan penggemar dan merespons persis seperti yang dilakukan Ozzy semasa hidup.
Meski demikian, skeptisisme tetap muncul dari sebagian penggemar yang khawatir proyek ini akan mereduksi kenangan akan seorang ikon rock menjadi sekadar tontonan digital. Namun, Jack membantah keras anggapan tersebut. Dalam video di kanal YouTube-nya, ia menegaskan, “Ini bukan sekadar menempelkan gambar ayah saya ke ChatGPT. Ini teknologi tingkat tinggi yang akan terasa sangat nyata. Cara penggunaannya pun cukup liar.”
Menariknya, Jack mengungkapkan bahwa ia sempat membahas gagasan ini dengan Ozzy sebelum sang legenda meninggal. “Kami benar-benar membicarakannya sebelum dia pergi. Jadi saya tahu dia akan menyukai ini,” katanya. Pernyataan ini menjadi semacam legitimasi bahwa proyek tersebut bukanlah keputusan sepihak yang hanya didorong oleh motif finansial.
Bagi penggemar di Indonesia, proyek ini membuka diskusi lebih luas tentang batasan etika dalam penggunaan AI untuk mereplikasi figur publik yang telah meninggal. Di tengah maraknya konten deepfake dan AI generatif, langkah keluarga Osbourne bisa menjadi preseden baru—apakah teknologi ini akan diterima sebagai bentuk penghormatan atau justru dianggap eksploitasi? Kehadiran Digital Ozzy dalam waktu dekat akan menjadi ujian nyata bagi penerimaan publik terhadap “warisan digital” semacam ini.



