Kontrak Data Center AI Senilai Rp80 Triliun: Applied Digital Garap Pasar Hyperscaler AS
Baca dalam 60 detik
- Applied Digital meneken kontrak sewa 15 tahun dengan hyperscaler AS senilai US$5,2 miliar untuk pusat data AI di Delta Forge 2.
- Kesepakatan ini mencakup kapasitas 210 megawatt dan merupakan kontrak ketiga dengan penyewa yang sama, memperkuat posisi Applied Digital di pasar infrastruktur AI.
- Nilai kontrak berpotensi melonjak hingga US$12,7 miliar jika opsi perpanjangan 30 tahun diambil, mencerminkan permintaan global yang terus meningkat.
Applied Digital, perusahaan infrastruktur komputasi asal Amerika Serikat, baru saja mengamankan kontrak sewa jangka panjang senilai US$5,2 miliar (sekitar Rp80 triliun) dengan salah satu hyperscaler AS untuk pusat data kecerdasan buatan (AI) di kampus Delta Forge 2. Kesepakatan ini langsung mendongkrak harga saham Applied Digital sebesar 8,7 persen dalam perdagangan setelah jam bursa, menandai optimisme investor terhadap pertumbuhan sektor AI yang kian agresif.
Kontrak berdurasi 15 tahun itu mencakup penyediaan kapasitas komputasi sebesar 210 megawatt di bawah skema take-or-pay, yang berarti penyewa wajib membayar berapa pun kapasitas yang digunakan. Langkah ini menjadi bagian dari strategi ekspansi Applied Digital yang kini memiliki lima kampus dengan total kapasitas IT kritis 1,4 gigawatt dan daya listrik terhubung jaringan 2,15 gigawatt. Perusahaan menyebutkan bahwa sekitar 70 persen pendapatan terkontrak mereka kini didukung oleh hyperscaler berperingkat investasi.
Menurut analis industri, kesepakatan ini mencerminkan perang penawaran antar raksasa teknologi seperti Google, Microsoft, dan Amazon untuk mengamankan kapasitas komputasi AI. Permintaan terhadap pusat data khusus AI melonjak seiring adopsi model bahasa besar dan aplikasi generatif. Applied Digital, yang sebelumnya dikenal sebagai penyedia infrastruktur Bitcoin mining, kini bertransformasi menjadi pemain kunci di segmen AI dengan teknologi pendingin tanpa air (waterless cooling) dan infrastruktur kepadatan daya tinggi.
Bagi Indonesia, tren ini membawa implikasi ganda. Di satu sisi, investasi raksasa teknologi global di pusat data AI membuka peluang bagi perusahaan lokal untuk menjadi pemasok komponen atau penyedia jasa konstruksi. Namun, di sisi lain, kebutuhan listrik yang masif dari pusat data AI berpotensi membebani pasokan energi nasional jika Indonesia tidak segera membangun infrastruktur listrik yang memadai. Pemerintah Indonesia sendiri tengah mendorong pembangunan pusat data di Batam dan Nongsa Digital Park, meski skalanya masih jauh dari proyek seperti Delta Forge 2.
Applied Digital menegaskan bahwa Delta Forge 2 akan menggunakan teknologi pendingin ramah lingkungan yang tidak memerlukan air, sebuah fitur yang semakin dicari di tengah krisis air global. Operasi awal dijadwalkan mulai pada kuartal pertama 2028. Dengan portofolio kontrak yang terus bertambah, Applied Digital optimistis dapat memenuhi permintaan hyperscaler yang terus meningkat, terutama dari sektor AI yang diperkirakan tumbuh dua digit dalam satu dekade ke depan.
Pertanyaan yang kini mengemuka: akankah Indonesia mampu menarik investasi serupa dari hyperscaler global, atau justru akan ketinggalan dalam perlombaan infrastruktur AI? Jawabannya mungkin tergantung pada kesiapan regulasi, ketersediaan energi hijau, dan stabilitas kebijakan investasi di tanah air.



