Jamu RI Siap Ekspansi ke China-India: Regulasi Ketat Jadi Batu Sandungan
Baca dalam 60 detik
- Sido Muncul mengandalkan riset dan platform digital Sido HerbalPedia untuk memperkuat kredibilitas jamu di pasar global.
- Target ekspor ke Arab Saudi, India, dan China pada 2026 masih terganjal regulasi ketat negara tujuan.
- Langkah ini sejalan dengan dorongan pemerintah RI menjadikan obat tradisional sebagai komoditas unggulan ekspor.

Industri jamu nasional mulai menapaki panggung global. PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO) menargetkan ekspansi besar-besaran ke Arab Saudi, India, dan China pada 2026, meski regulasi ketat di negara-negara tersebut masih menjadi tantangan utama. Direktur Utama Sido Muncul, Irwan Hidayat, menegaskan bahwa riset dan inovasi produk menjadi kunci untuk menembus pasar yang selama ini didominasi obat-obatan modern.
Strategi yang diusung Sido Muncul tidak main-main. Perusahaan meluncurkan Sido HerbalPedia, sebuah platform digital yang menyajikan informasi kesehatan herbal berbasis riset ilmiah. Tujuannya jelas: mengedukasi konsumen global sekaligus membangun kepercayaan terhadap jamu sebagai produk yang tidak sekadar tradisional, tetapi juga teruji secara saintifik. Langkah ini dinilai krusial mengingat pasar seperti China dan India memiliki standar keamanan dan kehalalan yang sangat ketat.
Bagi Indonesia, keberhasilan Sido Muncul membuka pasar ekspor jamu bukan sekadar prestasi korporasi. Ini menjadi uji coba bagi industri obat tradisional nasional untuk bersaing di kancah global. Pemerintah sendiri telah mendorong hilirisasi produk herbal melalui berbagai program, namun realitas di lapangan menunjukkan bahwa regulasi di negara tujuan kerap menjadi hambatan. Misalnya, China menerapkan persyaratan uji klinis yang panjang, sementara India memiliki aturan ketat terkait sertifikasi halal dan bahan baku.
Menurut Irwan Hidayat, inovasi produk tidak bisa berhenti pada formulasi jamu tradisional. Perusahaan harus mampu membuktikan khasiatnya melalui riset ilmiah yang diakui secara internasional. "Kepercayaan pasar global hanya bisa diraih jika produk kami memiliki data ilmiah yang kuat," ujarnya dalam wawancara dengan CNBC Indonesia. Ia menambahkan bahwa Sido Muncul telah mengalokasikan anggaran riset yang signifikan untuk memenuhi standar tersebut.
Dari sisi pasar domestik, langkah ini juga berdampak positif. Meningkatnya permintaan ekspor akan mendorong petani tanaman obat lokal untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi. Namun, tantangan regulasi di tingkat global membutuhkan sinergi antara pemerintah dan pelaku industri. Tanpa dukungan diplomasi dagang yang kuat, target ekspor jamu bisa terhambat.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah Indonesia mampu menyaingi dominasi China dan India dalam pasar herbal global? Kedua negara tersebut sudah memiliki industri obat tradisional yang mapan dengan dukungan regulasi yang kondusif. Sido Muncul mungkin menjadi pionir, tetapi keberhasilan jangka panjang membutuhkan transformasi sistemik di seluruh rantai nilai jamu nasional.



