Literasi Kesehatan Reproduksi Masih Rendah, Kemendukbangga Siapkan Buku Siklus Hidup
Baca dalam 60 detik
- Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga) menyusun buku panduan kesehatan reproduksi berbasis siklus hidup untuk mengatasi rendahnya literasi dan maraknya mitos di masyarakat.
- Buku ini menjangkau seluruh tahapan usia—dari anak dini hingga lansia—dan telah diuji keterbacaannya oleh 40 peserta dari berbagai unsur, termasuk penyuluh KB dan forum anak.
- Pendekatan komprehensif ini diharapkan mampu menekan angka pernikahan dini, kehamilan tak direncanakan, serta memperbaiki akses informasi dan layanan reproduksi yang selama ini timpang.
Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga) meluncurkan inisiatif baru berupa buku panduan kesehatan reproduksi yang disusun berdasarkan siklus hidup manusia, sebagai respons terhadap masih rendahnya literasi dan merebaknya mitos seputar reproduksi di tengah masyarakat.
Direktur Bina Kesehatan Reproduksi Kemendukbangga, Riri Mutia Ichwan, mengungkapkan bahwa buku ini dirancang untuk menjadi referensi yang mudah dipahami oleh berbagai kelompok usia. "Buku ini disusun sebagai referensi untuk membantu masyarakat memahami kesehatan reproduksi sesuai dengan tahapan kehidupan masing-masing," ujarnya dalam sosialisasi dan uji keterbacaan yang digelar di Jakarta Selatan, Jumat (5/6/2026).
Pendekatan yang digunakan tidak lagi terbatas pada kelompok usia subur, melainkan mencakup anak usia dini, remaja, dewasa, hingga lanjut usia. Langkah ini dinilai penting karena selama ini edukasi kesehatan reproduksi seringkali bersifat parsial dan tidak berkelanjutan. Akibatnya, berbagai intervensi yang dilakukan belum berjalan optimal.
Riri menambahkan, tantangan yang dihadapi cukup kompleks. "Masih ada rendahnya literasi kesehatan reproduksi, mitos dan stigma yang berkembang, pernikahan usia dini, kehamilan yang tidak direncanakan, serta terbatasnya akses terhadap informasi dan layanan yang berkualitas," paparnya. Ia juga menyoroti bahwa pendekatan edukasi yang belum terintegrasi berdasarkan siklus hidup membuat intervensi tidak efektif.
Bagi Indonesia, inisiatif ini memiliki arti strategis. Dengan jumlah penduduk yang besar dan beragam, pemahaman kesehatan reproduksi yang komprehensif dapat berkontribusi pada penurunan angka stunting, perbaikan kualitas hidup perempuan, dan penguatan ketahanan keluarga. Buku ini diharapkan menjadi rujukan bagi pengelola program di tingkat pusat dan daerah, serta masyarakat umum.
Uji keterbacaan yang melibatkan 40 peserta dari berbagai unsur—mulai dari Penyuluh Keluarga Berencana (PKB) kelurahan, petugas Pelayanan Keluarga Terpadu (PKT) kecamatan, kader kesehatan, Forum Anak, Forum Generasi Berencana (Genre), hingga pengurus dan peserta didik sekolah lansia—menunjukkan komitmen untuk memastikan materi benar-benar dapat dipahami oleh pengguna. Masukan dari peserta akan digunakan untuk menyempurnakan buku sebelum digunakan secara lebih luas.
Ke depan, keberhasilan buku ini tidak hanya bergantung pada kualitas konten, tetapi juga pada distribusi dan sosialisasi yang masif, terutama di daerah terpencil dengan akses informasi terbatas. Akankah buku ini mampu mengubah paradigma masyarakat yang selama ini menganggap kesehatan reproduksi sebagai topik tabu? Atau justru menjadi dokumen yang hanya menghiasi rak perpustakaan?



