Dari Michael Jackson ke Bad Bunny: Bagaimana Pertunjukan Paruh Waktu Super Bowl Menjadi Fenomena Global
Baca dalam 60 detik
- NFL akan menggelar pertunjukan paruh waktu di tujuh negara pada musim 2026, menandai ekspansi terbesar acara ini ke panggung global.
- Sejak penampilan Michael Jackson pada 1993, pertunjukan paruh waktu Super Bowl bertransformasi dari parade kampus menjadi konser megabintang yang ditonton lebih dari 120 juta pemirsa.
- Pemilihan artis kini mengutamakan relevansi lokal dan daya tarik global, dengan Roc Nation sebagai mitra seleksi sejak 2019.

Pertunjukan paruh waktu Super Bowl telah lama melampaui sekadar hiburan olahraga, menjadi tontonan budaya yang bahkan mengalahkan rating pertandingan NFL itu sendiri. Kini, liga tersebut bersiap membawa pengalaman ini ke panggung dunia dengan rekor sembilan pertandingan musim reguler di luar negeri pada 2026, lengkap dengan pertunjukan paruh waktu di tujuh negara tuan rumah.
Transformasi ini berawal dari penampilan Michael Jackson pada Super Bowl XXVII tahun 1993. Tim Tubito, direktur global acara dan hiburan NFL sejak 2021, menyebut momen itu sebagai titik balik. “Itu mengubah segalanya. Orang mulai mengharapkan spektakel,” katanya. Sebelum era Jackson, pertunjukan paruh waktu lebih banyak menampilkan marching band dan penari, bukan megabintang pop.
Sejak 1998, panggung Super Bowl menjadi milik artis kelas dunia dari berbagai genre: dari Prince yang membawakan Purple Rain di tengah guyuran hujan pada 2007, hingga kolaborasi Dr. Dre, Eminem, dan Snoop Dogg pada 2022. Rekor penonton terbaru dipegang Kendrick Lamar pada 2025 dengan 133,5 juta pemirsa, melampaui rekor Jackson.
Pemilihan artis bukan sekadar mencari nama besar. Tubito menekankan pentingnya koneksi lokal. “Kami ingin talenta yang relevan di pasar setempat, tapi juga punya daya tarik global,” ujarnya. Contohnya, penampilan Raye di London tahun lalu—saat itu ia belum setenar sekarang—justru menjadi batu loncatan kariernya. Strategi serupa diterapkan di Brasil dengan Karol G dan di Spanyol dengan Daddy Yankee.
Bagi Indonesia, ekspansi NFL ini membuka peluang baru. Meski belum ada rencana pertandingan di Asia Tenggara, tren globalisasi olahraga Amerika ini bisa memicu minat terhadap American football di kawasan. Jika NFL suatu hari membawa pertunjukan paruh waktu ke Asia, artis Indonesia berpotensi dilirik, mengingat besarnya basis penggemar musik Tanah Air di platform streaming global.
Pengaruh pertunjukan paruh waktu Super Bowl bahkan merambah ke ajang lain. Untuk pertama kalinya, final Piala Dunia 2026 akan menampilkan pertunjukan paruh waktu yang digarap oleh Coldplay, Madonna, Shakira, dan BTS. Ini menunjukkan bahwa format hiburan ala Super Bowl kini diadopsi oleh even olahraga terbesar dunia.
Lantas, apa selanjutnya untuk Super Bowl? Tubito mengisyaratkan ide baru: sebuah pertunjukan ensemble yang merangkai bakat lintas generasi dalam satu panggung. “Saya belum bisa mengungkapkannya, tapi kami akan mencari momen yang tepat,” katanya. Sementara itu, Miley Cyrus disebut-sebut sebagai kandidat kuat untuk Super Bowl 2026 di Los Angeles.
Dengan ekspansi internasional yang agresif, NFL tampaknya ingin memastikan bahwa pertunjukan paruh waktu tidak hanya menjadi milik Amerika, tetapi juga dunia. Pertanyaannya, sejauh mana format ini bisa diadaptasi tanpa kehilangan esensi spektakel yang telah dibangun selama tiga dekade?



