UNESCO Tetapkan Situs Asuka-Fujiwara Jepang sebagai Warisan Dunia: Jejak Peradaban Asia Timur
Baca dalam 60 detik
- UNESCO menambahkan 19 situs arkeologi Nara, Jepang, ke daftar Warisan Dunia, menandai situs ke-27 bagi Jepang.
- Situs Asuka-Fujiwara mencerminkan proses pembentukan negara terpusat di Jepang kuno dengan pengaruh kuat dari China dan Semenanjung Korea.
- Keputusan ini memperkuat posisi Jepang dalam diplomasi budaya dan menjadi pengingat akan pentingnya pelestarian warisan sejarah di kawasan Asia.

Komite Warisan Dunia UNESCO secara resmi menetapkan gugus situs arkeologi Asuka-Fujiwara di Prefektur Nara, Jepang, sebagai Warisan Budaya Dunia, Minggu (26/7). Keputusan ini menambah daftar panjang situs bersejarah Jepang dan menegaskan nilai universal dari peninggalan peradaban Asia Timur yang terbentuk melalui interaksi antarbangsa.
Gugus situs yang diakui dengan nama "Asuka-Fujiwara: Archaeological sites of Japan's Ancient Capitals and Related Properties" ini terdiri dari 19 lokasi peninggalan yang berasal dari akhir abad keenam hingga awal abad kedelapan. Kawasan tersebut mencakup reruntuhan Istana Asuka dan Istana Fujiwara yang menjadi pusat pemerintahan awal, sisa-sisa ibu kota pertama Jepang yang terencana, candi-candi Buddha kuno, serta gundukan kuburan megah.
Yang menarik perhatian dunia adalah dua gundukan makam di dalamnya: Takamatsuzuka yang terkenal dengan lukisan dinding berwarna cerah, dan Kitora yang menyimpan peta astronomi tertua di Asia Timur. Temuan-temuan ini tidak hanya berbicara tentang kemajuan teknologi dan seni pada masanya, tetapi juga menunjukkan jaringan pertukaran pengetahuan lintas batas yang sudah terbentuk sejak dini.
Menurut para arkeolog, nilai luar biasa dari situs-situs ini terletak pada kemampuannya mendokumentasikan proses transisi Jepang dari masyarakat klan menuju negara terpusat. Proses itu berlangsung tidak dalam isolasi, melainkan dengan interaksi intensif bersama China dan Korea. Hubungan diplomatik, perdagangan, dan penyebaran agama Buddha menjadi katalis yang membentuk lanskap politik dan budaya Nara kala itu.
Bagi Indonesia, pengakuan ini memberikan pelajaran berharga tentang bagaimana warisan budaya dapat menjadi instrumen soft power dan diplomasi. Jepang telah lama menjadikan situs-situs bersejarahnya sebagai daya tarik wisata dan riset, sekaligus sebagai pengingat identitas nasional. Indonesia, dengan kekayaan candi dan situs prasejarah seperti Candi Borobudur dan Sangiran, dapat mengambil inspirasi dari pendekatan Jepang dalam konservasi dan promosi warisan budaya ke panggung global.
โProses pengajuan dan pemeliharaan situs seperti yang dilakukan Jepang memerlukan komitmen jangka panjang, tidak hanya dari pemerintah tetapi juga dari masyarakat lokal,โ ujar seorang pakar warisan budaya dari Universitas Indonesia, yang dihubungi LyndHub. โIndonesia masih menghadapi tantangan dalam hal pendanaan dan perlindungan hukum terhadap situs-situs arkeologi, meskipun potensinya sangat besar.โ
Ke depannya, dengan bertambahnya situs Asuka-Fujiwara, Jepang kini memiliki 22 situs warisan budaya dan 5 situs alam yang diakui UNESCO. Namun, tren global dalam pariwisata massal dan perubahan iklim menimbulkan pertanyaan baru: mampukah negara-negara, termasuk Indonesia, menyeimbangkan antara keterbukaan publik dan pelestarian? Jawabannya mungkin akan ditemukan dalam praktik konservasi situs-situs seperti Asuka-Fujiwara yang baru saja diakui dunia.



