Serangan Mobil di Tengah Perayaan Pride Berlin: Satu Tewas, Pelaku Diburu
Baca dalam 60 detik
- Seorang pria berusia 21 tahun yang diduga memiliki kaitan dengan kelompok Islamis ditetapkan sebagai tersangka penabrakan massal di Berlin yang menewaskan satu orang dan melukai 16 lainnya.
- Insiden tersebut mengoyak suasana Christopher Street Day, perayaan kebanggaan LGBTQ+ terbesar di Eropa, yang dihadiri ratusan ribu orang di Tiergarten Park.
- Pemburuan besar-besaran melibatkan helikopter dan ratusan aparat, sementara tekanan keamanan publik kembali mengemuka menjelang pemilihan daerah Berlin.

Suasana perayaan Christopher Street Day di Berlin berubah mencekam setelah sebuah kendaraan roda empat menyerbu kerumunan di Taman Tiergarten, menewaskan satu orang dan melukai 16 lainnya, Sabtu (26/7) malam waktu setempat. Polisi Jerman kini memburu seorang pemuda 21 tahun yang diduga kuat berada dalam jaringan Islamis radikal.
Pelaku yang disebut aparat sebagai Abdul B. itu disebutkan masih berkeliaran dan dianggap bersenjata. Kendaraan yang dipakainya—jenis minivan atau SUV—ditemukan terbengkalai tak jauh dari lokasi kejadian. Tiga korban lapor menderita cedera mengancam jiwa, sementara sekitar 30 orang lainnya dirawat karena syok. Petugas pemadam kebakaran Berlin, Dominik Pretz, menyatakan bahwa penanganan medis massal segera dilakukan.
Menurut juru bicara kepolisian Florian Nath, semua petunjuk awal mengarah pada motif ekstremisme. "Kami berasumsi tersangka memiliki keterkaitan dengan kelompok Islamis," ujarnya. Ciri-ciri yang disebar: tinggi sekitar 1,90 meter, bertubuh ramping, rambut hitam, mengenakan hoodie hitam dan celana putih. Beberapa saksi melaporkan bahwa senjata tajam juga digunakan dalam serangan itu.
Serangan ini sontak mengingatkan warga Jerman pada rentetan tragedi serupa. Yang paling membekas adalah tabrakan truk di pasar Natal Breitscheidplatz pada Desember 2016 yang menewaskan 12 orang. Tak lama sebelumnya, pada Februari 2025, seorang turis Spanyol ditikam di Memorial Holocaust, tak sampai 500 meter dari Taman Tiergarten—pelakunya, Wassim Al M, telah dihukum 13 tahun penjara atas keterkaitan dengan Islamic State. Bulan lalu, Taleb Jawad al-Abdulmohsen, seorang psikiater Saudi berhaluan anti-Islam, dipenjara seumur hidup karena menabrakkan SUV di pasar Natal Magdeburg, menewaskan enam orang.
Kanselir Friedrich Merz menyebut kejadian ini sebagai "perbuatan mengerikan" dan berjanji pelaku akan diadili. Wali Kota Berlin, Kai Wegner, mengutuk keras serangan terhadap "perkumpulan yang menjunjung toleransi dan perdamaian". Polisi sebenarnya telah mengerahkan lebih dari 2.000 personel untuk mengamankan perayaan—jumlah yang dianggap memadai oleh banyak pihak, namun tak mampu mencegah tragedi. Kini, ribuan aparat dari berbagai negara bagian dikerahkan, dibantu helikopter dengan kamera termal, untuk memburu Abdul B.
"Pulanglah, tolong," demikian perintah polisi kepada peserta pawai yang masih bertahan di dekat Brandenburger Tor, seperti diungkapkan seorang saksi kepada AFP. Perayaan yang semula riuh mendadak sunyi, digantikan lalu-lalang ambulans dan kendaraan taktis.
Bagi Indonesia, peristiwa ini menjadi pengingat rentannya ruang publik terhadap aksi kekerasan bermotif ideologi. Komunitas LGBTQ+ di Tanah Air—yang kerap menghadapi diskriminasi dan kekerasan—semakin rentan menjadi sasaran. Meski skala dan konteksnya berbeda, serangan di Berlin menegaskan bahwa intoleransi tidak mengenal batas negara. Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri belum mengeluarkan pernyataan resmi, namun diaspora Indonesia di Jerman diimbau meningkatkan kewaspadaan.
Serangan ini juga terjadi dua bulan menjelang pemilihan parlemen daerah Berlin. Survei menunjukkan persaingan ketat antara partai CDU pimpinan Merz, Partai Alternatif untuk Jerman (AfD) yang berhaluan kanan jauh, dan Partai Kiri (Linke). Wali Kota Wegner, yang telah mengumumkan tidak akan maju lagi dalam pemilu mendatang setelah dikritik soal penanganan pemadaman listrik besar-besaran pada Januari lalu, kini menghadapi tekanan baru soal keamanan publik. Pertanyaan yang menggantung: seberapa efektifkah aparat mencegah serangan berikutnya?



