Kapal Vietnam Kandas di Laut China Selatan: 17 Kru Masih Hilang, Operasi SAR Meluas
Baca dalam 60 detik
- Sebanyak 45 dari 62 awak kapal kargo Vietnam telah diselamatkan, sementara 17 orang masih dalam pencarian intensif.
- Kecelakaan terjadi di dekat Fiery Cross Reef, wilayah yang diklaim China dan menjadi bagian sengketa Laut China Selatan.
- Vietnam dan China bekerja sama dalam operasi penyelamatan, meski ketegangan klaim kedaulatan di kawasan masih berlangsung.

Operasi pencarian dan penyelamatan masih bergulir di Laut China Selatan pada Minggu (26/7/2026) setelah sebuah kapal kargo berbendera Vietnam tenggelam di perairan dekat Fiery Cross Reef. Sebanyak 45 awak berhasil dievakuasi sejak Sabtu malam, namun 17 orang lainnya belum ditemukan, menurut laporan penyiar negara China, CCTV.
Kapal bernama Khoi Nguyen 18 itu membawa 62 warga Vietnam saat mengalami keadaan darurat di lokasi yang masuk dalam kawasan Kepulauan Spratly. Kapal sepanjang hampir 70 meter dengan bobot 999 ton metrik itu diperkirakan tenggelam setelah dikirimkan suar darurat yang pertama kali terlihat oleh kapal penyelamat China, Nanhai Jiu 115.
Tim penyelamat China menemukan sebuah rakit sekoci yang membawa 29 orang sekitar 38 mil laut di utara Fiery Cross Reef. Dua misi penyelamatan tambahan membawa total korban selamat menjadi 45 orang. Dua kapal penyelamat dan satu helikopter masih dikerahkan untuk menjangkau lokasi terpencil.
Kementerian Luar Negeri Vietnam menyatakan bahwa segera setelah insiden, otoritas Vietnam berkoordinasi erat dengan tim penyelamat China yang tiba lebih dulu di lokasi. Seorang juru bicara berterima kasih atas dukungan China dalam operasi tersebut. Peristiwa ini kembali mengingatkan publik akan risiko pelayaran di salah satu jalur laut tersibuk di kawasan.
Fiery Cross Reef merupakan bagian dari Kepulauan Spratly yang diklaim penuh oleh China. Di terumbu karang tersebut, Beijing telah membangun landasan pacu dan pulau buatan yang dipersenjatai. Klaim China tumpang tindih dengan Vietnam, Filipina, Taiwan, Malaysia, dan Brunei. Bagi Indonesia, eskalasi di Spratly memberikan tekanan pada potensi konflik di kawasan, terutama mengingat posisi Indonesia yang berbatasan langsung di Laut Natuna.
Menurut pengamat geopolitik maritim dari Universitas Indonesia, Dr. Andi Widjajanto, insiden ini tidak hanya menjadi tragedi kemanusiaan tetapi juga ujian kerja sama regional. โKoordinasi SAR yang baik antara China dan Vietnam adalah sinyal positif, tetapi belum tentu meredam persaingan klaim. Indonesia sebaiknya memperkuat patroli dan diplomasi maritimnya,โ ujarnya.
Ke depan, pertanyaan besar yang mengemuka adalah sejauh mana insiden ini mempengaruhi hubungan bilateral kedua negara di tengah sengketa yang tak kunjung selesai. Proses investigasi penyebab tenggelamnya kapal pun akan menjadi pusat perhatian, terutama mengingat muatan dan tujuan pelayaran Khoi Nguyen 18 yang belum dirilis secara resmi.



