Siklus Serangan Udara Rusia-Ukraina Makin Ganas: Drone dan Rudal Bergantian Menghantam
Baca dalam 60 detik
- Rusia meningkatkan skala serangan drone dan rudal secara signifikan dalam sebulan terakhir, memicu siklus balasan Ukraina yang semakin efektif.
- Ukraina berhasil melancarkan serangan balasan ke wilayah Rusia, termasuk St Petersburg dan Moskow, mengubah pola perang udara menjadi saling balas yang cepat.
- Dukungan pertahanan udara Ukraina dari Uni Eropa mulai mengalir, namun ketergantungan pada pasokan AS yang menurun menjadi celah yang dimanfaatkan Rusia.

Perang udara antara Rusia dan Ukraina memasuki fase baru yang lebih intens dalam sebulan terakhir, dengan kedua pihak saling melancarkan serangan drone dan rudal dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya. Jika sebelumnya serangan udara bersifat sporadis, kini pola yang muncul adalah siklus saling balas yang cepat dan mematikan, mengubah peta konflik yang sempat stagnan di darat.
Pada pertengahan Mei, Rusia melancarkan dua serangan berturut-turut yang disebut sebagai yang terbesar sejak perang dimulai. Gelombang serangan itu tidak hanya menyasar Kyiv, tetapi juga kota-kota lain di Ukraina. Hanya berselang sepuluh hari, serangan serupa kembali terjadi, dan seminggu kemudian Rusia mengulanginya lagi. Yang membedakan adalah respons Ukraina yang tidak lagi sekadar bertahan, tetapi membalas dengan menyerang wilayah Rusia, termasuk Moskow dan St Petersburg, tepat sebelum Forum Ekonomi Internasional St Petersburg digelar pada awal Juni.
Pakar militer menilai siklus ini menciptakan eskalasi berbahaya. Ukraina membalas setiap serangan Rusia, dan Moskow menggunakan balasan itu sebagai justifikasi untuk serangan berikutnya. “Yang baru adalah skala dan kecepatan siklus ini,” tulis analis dalam artikel di The Conversation. Serangan Ukraina ke wilayah Rusia kini tidak lagi bersifat simbolis, melainkan sangat efektif, sehingga Rusia menuduh Kyiv melakukan kampanye teror—sebuah tuduhan yang dibantah dengan merujuk pada serangan Rusia yang sistematis terhadap infrastruktur sipil.
Di balik efektivitas serangan Rusia yang meningkat, terdapat kelemahan struktural. Ukraina kesulitan mencegat rudal Rusia karena stok pertahanan rudalnya menipis, terutama setelah dukungan AS berkurang sejak Donald Trump kembali ke Gedung Putih pada Januari 2025. Pengalihan pencegat rudal AS ke Timur Tengah juga memperburuk situasi. Namun, analis memperkirakan Rusia tidak akan mampu mempertahankan intensitas ini dalam jangka panjang. Produksi drone murah memang melimpah, tetapi rudal jauh lebih sulit diproduksi massal. Kombinasi yang paling mungkin adalah serangan drone massal yang sering, diselingi rentetan rudal besar-besaran secara berkala.
Bagi Indonesia, konflik ini memberikan pelajaran tentang pentingnya kemandirian industri pertahanan, terutama dalam memproduksi sistem pertahanan udara. Ketergantungan pada satu pemasok utama—seperti Ukraina terhadap AS—terbukti rentan terhadap perubahan politik global. Selain itu, eskalasi perang udara ini juga berpotensi mengganggu rantai pasok komoditas global, termasuk gandum dan energi, yang dapat berdampak pada harga pangan dan inflasi di Indonesia.
Diplomasi mulai menunjukkan celah. Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menyatakan bahwa serangan balasan Ukraina ke Rusia telah menempatkan Kyiv setara dengan Moskow dalam negosiasi. Namun, Kremlin tampaknya belum siap untuk berdamai. “Tidak ada jalan tengah bagi Putin: antara eskalasi, termasuk mobilisasi nuklir, atau menuju kesepakatan damai,” tulis analis. Sumber daya yang terkuras dan kegagalan mencapai tujuan strategis membuat kelanjutan perang semakin tidak berkelanjutan bagi Rusia.
Pertanyaan besarnya adalah apakah siklus saling balas ini akan berujung pada kebuntuan baru yang lebih mahal, atau justru memaksa kedua pihak duduk bersama. Dengan musim panas yang akan datang, tekanan di medan perang dan di meja negosiasi akan semakin terasa.



