Jepang di Persimpangan: Jalin Komunikasi dengan Rusia, Guncang Solidaritas G7
Baca dalam 60 detik
- Langkah Tokyo mengirim delegasi ke Moskow memicu kekhawatiran sejumlah negara Eropa menjelang KTT G7, menguji batas antara diplomasi dan isolasi Barat.
- Pemerintah Jepang beralasan misi tersebut untuk melindungi aset perusahaan Jepang di Rusia, namun kritik menilai hal itu melemahkan komitmen terhadap tatanan berbasis aturan.
- Pada KTT G7 mendatang, Perdana Menteri Sanae Takaichi dijadwalkan menegaskan dukungan untuk Ukraina sambil meredakan ketegangan akibat pendekatan Tokyo ke Moskow.

Jepang kembali menjadi sorotan setelah langkahnya menjaga saluran komunikasi dengan Rusia menimbulkan kegelisahan di antara sekutu Eropa, hanya sepekan sebelum pertemuan puncak Kelompok Tujuh (G7). Langkah Tokyo ini dianggap berpotensi menggerogoti front persatuan Barat yang tengah berupaya mengisolasi Moskow akibat invasi ke Ukraina.
Pada akhir Mei lalu, delegasi Jepang yang terdiri dari pejabat senior Kementerian Luar Negeri, Kementerian Ekonomi, Perdagangan dan Industri, serta perwakilan Japan Business Federation (Keidanren) mengadakan pertemuan dua hari dengan mitra mereka di Kementerian Pembangunan Ekonomi dan Kementerian Perindustrian Rusia. Kunjungan ini terjadi di tengah sanksi G7 yang masih berlaku terhadap Rusia, memicu pertanyaan dari beberapa negara Eropa mengenai konsistensi sikap Tokyo.
Kekhawatiran utama yang muncul adalah bahwa pendekatan bilateral Jepang-Rusia dapat mengirimkan sinyal ambigu tentang komitmen Jepang terhadap prinsip "kawasan Indo-Pasifik yang bebas dan terbuka" yang berbasis aturan. Seorang pejabat pemerintah menyebutnya sebagai "pesan yang salah" kepada komunitas internasional. Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Toshimitsu Motegi membela langkah tersebut dengan menyatakan bahwa komunikasi tetap penting, bahkan di saat hubungan sedang tegang.
Menteri Ekonomi, Perdagangan dan Industri Ryosei Akazawa menegaskan bahwa pembicaraan itu dimaksudkan untuk melindungi aset perusahaan Jepang yang masih beroperasi di Rusia. Seorang pejabat kementerian menggambarkan diskusi tersebut sebagai "praktis dan konstruktif". Namun, langkah ini dinilai kontras dengan komitmen Jepang yang baru-baru ini mengumumkan kontribusi sebesar 14,7 juta dolar AS ke kerangka kerja yang dipimpin NATO untuk pembelian senjata buatan AS bagi Ukraina.
Di dalam negeri, tekanan untuk memperbaiki hubungan dengan Moskow juga muncul dari kalangan politisi, terutama terkait isu keamanan energi. Muneo Suzuki, anggota Dewan Majelis Tinggi dari Partai Demokrat Liberal (LDP), mengunjungi Rusia pada awal Mei dan membahas kemungkinan dimulainya kembali dialog tingkat menteri luar negeri. Menurut Suzuki, pihak Rusia menyatakan bahwa kemajuan memerlukan langkah konkret Jepang untuk menjauh dari kebijakan yang dianggap Moskow sebagai sikap bermusuhan.
Bagi Indonesia, manuver Jepang ini menjadi pelajaran berharga tentang dilema diplomasi di tengah tekanan geopolitik. Sebagai negara yang juga menganut politik bebas aktif, Indonesia kerap dihadapkan pada pilihan serupa: menjaga hubungan ekonomi dengan mitra dagang utama sambil tetap berpegang pada prinsip hukum internasional. Langkah Jepang menunjukkan bahwa keseimbangan semacam itu tidak mudah, dan dapat menimbulkan friksi dengan aliansi strategis.
Menjelang KTT G7 di Prancis, Perdana Menteri Sanae Takaichi dijadwalkan untuk kembali menegaskan dukungan Jepang terhadap Ukraina dan berupaya meredakan kekhawatiran Eropa atas pendekatan Tokyo ke Moskow. Pertanyaannya, akankah penjelasan Tokyo cukup untuk memulihkan kepercayaan sekutu, atau justru memperlebar celah di antara negara-negara G7?


