Perlombaan Melawan Waktu: Ilmuwan Oxford Kembangkan Vaksin Ebola untuk Strain Bundibugyo
Baca dalam 60 detik
- Wabah Ebola strain Bundibugyo di Kongo dan Uganda telah menewaskan 61 orang, sementara vaksin yang ada hanya efektif untuk strain Zaire.
- Tim peneliti Oxford menggunakan platform ChAdOx1 (teknologi vaksin COVID-19) untuk mempercepat pengembangan vaksin baru, dengan pendanaan cepat dari CEPI.
- Tantangan terbesar bukan pada kemampuan membuat vaksin, melainkan memastikan ketersediaannya saat dan di mana wabah terjadi.

Di tengah wabah Ebola yang melanda Republik Demokratik Kongo (DRC) dan Uganda, para ilmuwan dari Oxford Vaccine Group berlomba mengembangkan vaksin yang tepat sasaran. Strain Bundibugyo, yang saat ini menjadi biang kerok wabah, tidak tertangani oleh dua vaksin Ebola yang sudah disetujui—keduanya hanya dirancang untuk strain Zaire. Dengan 359 kasus terkonfirmasi dan 61 kematian, situasi di Provinsi Ituri, DRC timur laut, semakin rumit akibat konflik bersenjata, pengungsian massal, dan fasilitas kesehatan yang minim.
Dua ilmuwan kunci, Teresa Lambe dan Rebecca Makinson, memimpin upaya adaptasi platform ChAdOx1—teknologi yang sama yang digunakan pada vaksin Oxford-AstraZeneca COVID-19—untuk melawan Bundibugyo. Pada 1 Juni lalu, tim mereka bersama Moderna dan IAVI menerima dana percepatan dari Coalition for Epidemic Preparedness Innovations (CEPI). Langkah ini merupakan kelanjutan dari riset vaksin Ebola tahun 2022 yang menargetkan strain berbeda.
Lambe menjelaskan bahwa pengembangan vaksin biasanya melalui tiga tahap berurutan: uji praklinis, uji hewan, dan produksi batch untuk uji klinis. Namun, karena menggunakan platform teknologi yang sudah mumpuni, timnya menjalankan ketiga alur tersebut secara paralel. “Kami sudah memulai uji coba pada hewan kecil sambil memproduksi batch untuk uji coba,” ujarnya. Fase satu uji klinis pada manusia ditargetkan berlangsung “relatif segera, dan pasti lebih cepat dari prosedur rutin.”
Meski optimisme tinggi, Makinson mengingatkan bahwa tantangan sesungguhnya bukan pada kemampuan teknis menciptakan vaksin. “Pertanyaannya bukan apakah kita bisa membuat vaksin Ebola—itu sudah jelas mungkin. Tantangan besar adalah mengembangkannya saat tidak ada wabah, lalu memastikan ketersediaannya saat dan di mana wabah terjadi,” kata peneliti pascadoktoral di kelompok Lambe itu. Pernyataan ini menggarisbawahi masalah klasik dalam kesiapsiagaan pandemi: pendanaan dan produksi vaksin sering terhenti begitu wabah mereda.
Bagi Indonesia, wabah Ebola di Afrika mungkin terasa jauh, tetapi pelajaran dari percepatan vaksin ini relevan. Negara dengan populasi padat dan mobilitas tinggi seperti Indonesia rentan terhadap penyakit menular emerging. Keberhasilan platform ChAdOx1 yang adaptif—dari COVID-19 ke Ebola—menunjukkan pentingnya investasi pada teknologi vaksin yang fleksibel. Tanpa itu, kesenjangan kesiapsiagaan antara negara maju dan berkembang akan terus melebar.
Ke depan, uji klinis fase satu akan menjadi penentu apakah kandidat vaksin ini aman dan imunogenik. Jika berhasil, produksi massal dan distribusi ke daerah konflik di DRC dan Uganda menjadi tantangan logistik berikutnya. Akankah pendanaan dan komitmen global bertahan cukup lama untuk memastikan vaksin ini tidak hanya menjadi solusi sementara? Jawabannya akan menentukan apakah wabah berikutnya bisa dicegah sebelum memakan korban jiwa.



