Xi Jinping Bakal Kunjungi Korea Utara Pekan Depan, Pertama dalam Tujuh Tahun
Baca dalam 60 detik
- Presiden China Xi Jinping dijadwalkan mengunjungi Pyongyang pada 7-8 Juni, menandai lawatan pertamanya ke Korea Utara sejak 2019.
- Kunjungan ini muncul sehari setelah Korea Utara memamerkan fasilitas produksi bahan nuklir baru, yang dinilai sebagai sinyal penguatan status negara nuklir.
- Langkah Xi memperkuat poros Beijing-Pyongyang di tengah ketegangan global, berpotensi menggeser keseimbangan geopolitik di Asia Timur.

Presiden China Xi Jinping akan melakukan kunjungan kenegaraan ke Korea Utara pada awal pekan depan, untuk pertama kalinya dalam hampir tujuh tahun. Pengumuman bersama dari kedua ibu kota pada Jumat (6/6) ini langsung memicu spekulasi mengenai arah aliansi strategis di kawasan Asia Timur, terutama setelah Pyongyang baru saja memamerkan fasilitas pengayaan uranium terbarunya.
Kunjungan yang berlangsung singkat, Senin hingga Selasa (9-10 Juni), menjadi momen diplomatik yang sarat makna. Xi terakhir kali menginjakkan kaki di Pyongyang pada Juni 2019, sebelum pandemi dan sebelum perang Ukraina mengubah peta geopolitik global. Kini, ia datang hanya beberapa pekan setelah menjamu Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin di Beijing secara terpisah.
Pengumuman ini muncul sehari setelah media pemerintah Korea Utara merilis gambar pemimpin Kim Jong Un menginspeksi pabrik produksi bahan baku bom nuklir. Pakar keamanan menilai pengungkapan fasilitas tersebut merupakan pesan tersirat bahwa Kim ingin menegaskan status negaranya sebagai negara bersenjata nuklir penuh sebelum kedatangan Xi.
Dalam beberapa tahun terakhir, Kim Jong Un lebih memprioritaskan pengembangan hubungan dengan Rusia, termasuk mengirim pasukan dan senjata konvensional untuk mendukung perang Moskow di Ukraina. Namun, belakangan ia kembali mendekat ke China. Pertemuan terakhir Xi dan Kim terjadi di Beijing pada September 2025, saat Kim menghadiri parade militer China bersama Putin dan pemimpin asing lainnya. Saat itu, kedua pemimpin berjanji memperkuat dukungan timbal balik dan kerja sama.
Bagi Indonesia, dinamika poros Beijing-Pyongyang patut dicermati. Sebagai negara yang aktif dalam diplomasi perdamaian Semenanjung Korea, Jakarta berkepentingan agar stabilitas kawasan tidak terganggu. Eskalasi nuklir Korea Utara dapat memicu perlombaan senjata di Asia Timur, yang berpotensi mengalihkan perhatian dan sumber daya dari kerja sama ekonomi regional. Selain itu, China yang semakin erat dengan Korea Utara bisa memperkuat tekanan pada negara-negara tetangga, termasuk Indonesia, dalam isu Laut China Selatan.
Kunjungan Xi kali ini juga menjadi ujian bagi konsistensi kebijakan luar negeri China yang selama ini mengklaim mendukung denuklirisasi Semenanjung Korea. Kehadirannya di Pyongyang, tepat setelah pengumuman fasilitas nuklir baru, menimbulkan pertanyaan: apakah Beijing akan menekan Kim untuk menahan diri, atau justru memberikan lampu hijau terselubung? Jawabannya akan menentukan arah kebijakan keamanan di kawasan dalam beberapa tahun ke depan.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8056381/original/019256200_1780900064-Workshop_PAN.jpeg)

