Dana White dan Zuffa Boxing: Ancaman Baru bagi Dominasi Promotor Tradisional
Baca dalam 60 detik
- Zuffa Boxing, perusahaan milik bos UFC Dana White dengan dana Arab Saudi, menggelar debut Inggris di Bournemouth, menantang promotor mapan seperti Matchroom dan Queensberry.
- Strategi Zuffa mencakup perekrutan petinju top (Conor Benn, Jai Opetaia) dan rencana mengubah aturan Ali Act demi legitimasi gelar sendiri, memicu kontroversi di dunia tinju.
- Keberhasilan Zuffa di Inggris bisa mengubah peta persaingan global, namun tantangan regulasi dan resistensi promotor lama menjadi ujian utama.

Zuffa Boxing, perusahaan promotor tinju anyar yang didirikan oleh presiden UFC Dana White dengan sokongan dana Arab Saudi, menggelar pertunjukan perdananya di Inggris pada Sabtu ini di Bournemouth. Langkah ini menandai ekspansi agresif mereka ke pasar tinju Eropa, sekaligus menantang hegemoni promotor tradisional seperti Matchroom milik Eddie Hearn dan Queensberry milik Frank Warren.
Sejak resmi beroperasi pada Januari lalu, Zuffa Boxing langsung membuat kejutan dengan merekrut petinju welter Conor Benn dari Matchroom pada Februari. Mereka juga mengamankan jasa mantan juara dunia IBF kelas penjelajah Jai Opetaia, yang juga hengkang dari Matchroom. Pada Sabtu malam, empat petinju kelas penjelajah anyar Zuffa akan bertarung, termasuk Chris Billam-Smith yang menghadapi Ryan Rozicki dalam laga utama, serta Jack Massey yang berduel dengan Cheavon Clarke.
Strategi Zuffa tidak hanya berhenti pada perekrutan. White berencana mengubah cara kerja badan sanksi tradisional seperti WBC, WBA, WBO, dan IBF. Ia ingin gelar Zuffa diakui sebagai kejuaraan dunia yang sah, dan untuk itu ia berupaya mengamandemen Undang-Undang Muhammad Ali (2000) yang dirancang melindungi hak petinju dan mencegah monopoli. Langkah ini kontroversial karena Opetaia dicopot gelar IBF-nya pada Maret setelah menjadi juara perdana Zuffa.
Meski demikian, White tidak sepenuhnya meninggalkan gelar tradisional. Tahun lalu, ia turut mempromosikan laga Canelo Alvarez vs. Terence Crawford yang mempertaruhkan seluruh sabuk juara dunia kelas menengah super. Hal ini menunjukkan fleksibilitas Zuffa dalam beradaptasi dengan ekosistem tinju yang ada.
Pekan pertarungan Zuffa di Inggris memberikan gambaran gaya promosi yang berbeda. Konferensi pers Rabu lalu lebih sederhana dibandingkan kebiasaan promotor Inggris yang menyiarkan langsung sesi tanya jawab dengan semua petarung. Zuffa memilih jadwal wawancara individu dengan media, sementara acara timbang badan Jumat menjadi satu-satunya acara pra-pertarungan yang disiarkan langsung. Billam-Smith memuji pendekatan ini, mengatakan bahwa Zuffa memberikan perhatian penuh pada kesejahteraan petarung dengan menyediakan terapis dan ahli gizi di lokasi.
Persaingan antara White dan Hearn semakin memanas. Setelah Zuffa merekrut Benn dan Opetaia, Hearn membalas dengan menandatangani juara UFC Tom Aspinall ke agensi bakatnya. Hearn bahkan menuntut White melepas Aspinall dari kontrak UFC karena dianggap tidak dibayar sesuai nilai. Billam-Smith, yang sebelumnya berada di bawah naungan Hearn, mengkritik mantan promotornya karena tidak mendukung mimpinya bertarung di Bournemouth—sebuah visi yang kini diwujudkan oleh Zuffa.
Sejarah membuktikan White mampu mengubah lanskap olahraga. Ia membesarkan UFC dari organisasi kecil menjadi raksasa global, mengakuisisi saingan seperti Strikeforce dan Pride. Kini, ia mencoba mengulang sukses serupa di tinju. Namun, tantangannya tidak ringan: resistensi promotor mapan, regulasi yang rumit, dan loyalitas penggemar yang sudah terbentuk. Akankah Zuffa Boxing menjadi penguasa baru ring tinju, atau hanya sekadar guncangan sesaat?



