Hamilton Akui Kehebatan Antonelli, Bertekad Kejar Ketertinggalan 66 Poin
Baca dalam 60 detik
- Kimi Antonelli, 19 tahun, menjadi pembalap termuda yang menang di Monaco Grand Prix, memperpanjang dominasinya dengan kemenangan kelima beruntun.
- Lewis Hamilton finis kedua untuk kedua kalinya secara beruntun, menunjukkan peningkatan performa setelah musim pertama yang buruk bersama Ferrari.
- Hamilton menyamai rekor delapan podium Ayrton Senna di Monaco, namun harus bekerja keras untuk mengejar ketertinggalan 66 poin dari Antonelli.
Lewis Hamilton, tujuh kali juara dunia Formula 1, mengakui kehebatan pebalap muda Kimi Antonelli setelah kembali harus puas menjadi runner-up di Grand Prix Monaco, Minggu (7/6). Pebalap asal Inggris itu bertekad mengejar ketertinggalan 66 poin dari Antonelli yang kini memuncaki klasemen sementara.
Antonelli, yang baru berusia 19 tahun, mencatat sejarah sebagai pemenang termuda di sirkuit jalan raya Monte Carlo. Pebalap Italia itu tampil dingin di bawah tekanan, terutama saat race diakhiri dengan bendera merah akibat insiden di lap akhir. Kemenangan ini merupakan yang kelima berturut-turut bagi Antonelli musim ini, mempertegas dominasinya setelah menggantikan Hamilton di Mercedes pada 2025.
Hasil tersebut membuat Antonelli unggul 66 poin dari rival terdekatnya setelah enam seri. Namun, Hamilton yang finis kedua untuk kedua kalinya secara beruntun—setelah sebelumnya juga menjadi runner-up di Kanada—menunjukkan tanda-tanda kebangkitan. Posisi tersebut membawanya naik ke peringkat kedua klasemen, menggeser rekan setim Antonelli, George Russell.
Hamilton, yang musim lalu kesulitan beradaptasi dengan Ferrari, mengakui performa impresif Antonelli. "Dia melakukan pekerjaan luar biasa. Tim di sekelilingnya, Bono, Toto, semuanya hebat. Melihatnya tampil seperti ini sungguh menginspirasi saya untuk meningkatkan level permainan," ujar Hamilton seusai balapan. Ia juga membandingkan Antonelli dengan dirinya saat debut di F1 pada 2007.
Meski sempat diunggulkan untuk memutus dominasi Antonelli dan meraih kemenangan perdananya bersama Ferrari, Hamilton mengakui belum mampu menyaingi kecepatan pebalap muda tersebut. Bendera merah di akhir balapan sempat memberinya peluang menyalip, namun strategi pit stop yang kurang tepat membuatnya harus puas di posisi kedua.
Di sisi lain, pencapaian Hamilton di Monaco tetap patut diacungi jempol. Pebalap berusia 41 tahun itu menyamai rekor legenda Ayrton Senna dengan delapan podium di sirkuit tersebut. "Berada dalam daftar yang sama dengan Ayrton sangat keren. Saya masih ingat menontonnya saat kecil, dan hingga kini dia tetap pebalap favorit saya," kata Hamilton.
Bagi penggemar F1 di Indonesia, dominasi Antonelli menjadi tontonan menarik. Pebalap muda Italia itu dianggap sebagai penerus generasi emas F1, mirip dengan era kejayaan Michael Schumacher atau Sebastian Vettel. Sementara itu, perjuangan Hamilton untuk kembali ke puncak memberikan drama tersendiri—akankah ia mampu membalikkan keadaan seperti yang pernah dilakukannya di masa lalu?



