Sastra Kembali Jadi Tulang Punggung Pendidikan Karakter: Mendikdasmen Siapkan 5,5 Juta Buku Nonteks
Baca dalam 60 detik
- Mendikdasmen Abdul Mu'ti menegaskan sastra sebagai komponen esensial dalam membentuk karakter dan memperkuat literasi siswa di era digital.
- Pendidikan harus mencakup empat ranah secara terpadu: olahraga, olah rasa, olah pikir, dan olah hati, dengan sastra sebagai media ekspresi dan pengembangan karakter.
- Kemendikdasmen akan mendistribusikan 5,5 juta buku bacaan nonteks ke sekolah-sekolah di seluruh Indonesia sebagai bagian dari kebijakan Pembelajaran Mendalam.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti menempatkan sastra sebagai fondasi utama dalam pembentukan karakter peserta didik di tengah derasnya transformasi digital. Menurutnya, pendidikan tidak boleh hanya berorientasi pada kemampuan kognitif, melainkan juga harus menyeimbangkan olah rasa, olah hati, dan olahraga agar tumbuh secara holistik.
Dalam pernyataannya di Jakarta, Selasa, Mu'ti menjelaskan bahwa sastra menjadi medium yang ampuh untuk mengekspresikan gagasan, imajinasi, dan perasaan melalui bahasa yang santun sekaligus membangun karakter. Ia menilai ruang ekspresi anak-anak perlu diperluas, termasuk melalui platform digital yang kini menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan mereka.
โPendidikan itu ada empat, yaitu olahraga, olah rasa, olah pikir, dan olah hati. Keempatnya harus tumbuh semuanya dan harus kita berikan ruang yang terintegrasi,โ kata Mu'ti.
Mu'ti menegaskan bahwa perkembangan teknologi bukanlah ancaman bagi minat sastra, melainkan peluang untuk menciptakan ekosistem literasi baru. Ia mencontohkan inisiatif digital poetry atau puisi-puisi digital yang bisa diintegrasikan ke dalam portal Rumah Pendidikan serta Majalah Literasi yang diterbitkan secara rutin oleh kementerian. Langkah ini diyakini mampu menjembatani generasi muda yang akrab dengan gawai dengan nilai-nilai sastra klasik.
Penguatan literasi melalui sastra menjadi bagian integral dari kebijakan Pembelajaran Mendalam yang tengah dikembangkan Kemendikdasmen. Dalam pendekatan ini, materi pembelajaran dirancang lebih fokus, sementara peserta didik didorong untuk memperkaya pemahaman melalui konteks dan pengalaman belajar beragam. Tugas-tugas yang diberikan tidak lagi terpaku pada penyelesaian soal, tetapi juga mendorong aktivitas membaca dan menulis secara kreatif.
Bagi Indonesia, kebijakan ini menjadi relevan mengingat rendahnya minat baca di kalangan pelajar. Data Programme for International Student Assessment (PISA) menunjukkan bahwa kemampuan literasi siswa Indonesia masih di bawah rata-rata OECD. Dengan menjadikan sastra sebagai pilar pendidikan karakter, pemerintah berharap bisa membangun generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki empati, integritas, dan daya imajinasi tinggi.
Namun, tantangan terbesar ada pada implementasi di lapangan. Distribusi 5,5 juta buku nonteks harus tepat sasaran, terutama ke daerah terpencil yang minim akses bacaan. Selain itu, guru perlu dibekali pelatihan untuk mengintegrasikan sastra ke dalam pembelajaran sehari-hari, bukan sekadar sebagai muatan tambahan. Mu'ti optimistis bahwa dengan kolaborasi antara sekolah, orang tua, dan komunitas, sastra bisa kembali menjadi jembatan yang menghubungkan anak-anak dengan nilai-nilai luhur bangsa. Pertanyaan yang muncul kemudian: mampukah kebijakan ini menjawab krisis karakter yang semakin mengkhawatirkan di era digital?



