Api Kembali Mengamuk di Perbukitan Probolinggo, BNPB Kerahkan Tim Gabungan
Baca dalam 60 detik
- Angin kencang membawa bara api sehingga kebakaran lahan di perbukitan Probolinggo kembali menyala, menambah luas area terdampak.
- Medan terjal dan sulit dijangkau menjadi tantangan utama bagi tim gabungan BPBD yang dikerahkan untuk pemadaman.
- BNPB memastikan koordinasi dengan pemerintah daerah terus diperkuat agar kebakaran tidak meluas ke kawasan hutan lainnya.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengonfirmasi bahwa api kebakaran hutan dan lahan di kawasan perbukitan Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, kembali terlihat menyala akibat tiupan angin kencang yang membawa bara ke area vegetasi kering.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari menjelaskan bahwa kondisi cuaca yang tidak menentu serta hamparan dedaunan, rumput, dan serasah kering menjadi penyulut utama kobaran api di lokasi tersebut. "Hembusan angin membawa bara api yang dengan cepat menyulut bahan-bahan kering di sekitar perbukitan," ujarnya di Jakarta, Selasa (25/7).
Kebakaran ini sebelumnya telah melanda kawasan hutan Perum Perhutani seluas empat hektare di Desa Sapikerep, Kecamatan Sukapura, sejak Sabtu (22/7) dini hari. Namun, api yang dianggap padam kembali muncul di titik lain, tepatnya di Dusun III Ngelosari RT 18/04, wilayah dengan topografi terjal yang mempersulit akses petugas.
Direktorat Pengendalian Operasi BNPB mencatat bahwa tim gabungan dari BPBD Kabupaten Probolinggo dan BPBD Provinsi Jawa Timur telah dikerahkan untuk memadamkan api melalui jalur darat. Namun, akses menuju titik lokasi menjadi kendala utama karena berada di ketinggian bukit yang sulit dijangkau kendaraan. "Petugas harus berjalan kaki menempuh medan yang curam dan berbatu," kata Abdul.
Fenomena kebakaran lahan di perbukitan Probolinggo ini menjadi pengingat akan kerentanan kawasan hutan di Indonesia terhadap musim kemarau. Bagi masyarakat sekitar, asap dan potensi meluasnya api mengancam pemukiman serta aktivitas pertanian. Selain itu, kerugian ekologis akibat hilangnya tutupan hutan dapat memicu erosi dan gangguan hidrologi di daerah tangkapan air.
BNPB memastikan akan terus menjalin koordinasi dengan petugas daerah untuk memastikan lokalisasi dan pemadaman api berjalan optimal. "Kami berupaya agar kebakaran tidak meluas ke area lain yang masih memiliki vegetasi lebat," tegas Abdul. Langkah pencegahan seperti patroli dan sosialisasi kepada warga sekitar juga menjadi prioritas untuk mengurangi risiko kebakaran susulan.
Dengan kondisi cuaca yang masih kering dan angin bertiup kencang, pertanyaan yang muncul adalah seberapa cepat tim pemadam mampu mengendalikan api sebelum mencapai pemukiman? Respons cepat dan koordinasi lintas instansi menjadi kunci agar musibah ini tidak berlarut-larut.



