Joe Cordina Bantah Tuduhan Penganiayaan: Karier Tinju di Ujung Tanduk
Baca dalam 60 detik
- Mantan juara dunia super-featherweight Joe Cordina menyangkal dua dakwaan penganiayaan di luar pom bensin di Cardiff, Wales.
- Sidang perdana di Pengadilan Magistrat Cardiff menetapkan pengadilan utama pada 13 Oktober, sementara Cordina dibebaskan tanpa jaminan.
- Visa AS yang ditolak telah menggagalkan laga perebutan gelar WBO yang dijadwalkan Juli, menambah kompleksitas kasus hukumnya.

Mantan juara dunia tinju super-featherweight, Joe Cordina, membantah tuduhan menganiaya seorang pria di luar stasiun pengisian bahan bakar di Pentwyn, Cardiff, pada Februari lalu. Dalam sidang di Pengadilan Magistrat Cardiff, Selasa (12/3), petinju 34 tahun itu menyatakan tidak bersalah atas dua dakwaan pemukulan.
Kekacauan hukum ini menimpa Cordina di saat kariernya tengah menanjak. Ia sebelumnya dijadwalkan bertarung memperebutkan gelar kelas ringan WBO di Amerika Serikat pada 4 Juli. Namun, dalam unggahan media sosial, ia mengaku permohonan visa AS-nya ditolak, sehingga laga tersebut terancam batal.
Dalam persidangan, Cordina hadir bersama Jamie O'Brien (32), warga Pentwyn yang juga didakwa melakukan penganiayaan terkait insiden yang sama. O'Brien belum memasukkan pembelaan. Sebelumnya, pengadilan mendengar bahwa kedua pria itu saling dituduh melakukan kekerasan terhadap satu sama lain.
Pengacara Cordina, Nadeem Majid, menjelaskan bahwa dakwaan kedua yang dihadapi kliennya berasal dari satu insiden yang berkelanjutan. Hakim Distrik Charlotte Murphy memberikan jaminan tanpa syarat kepada Cordina hingga sidang utama yang dijadwalkan pada 13 Oktober tahun ini. Sementara itu, kasus O'Brien ditunda hingga 26 Agustus.
Kasus ini menyoroti risiko hukum yang kerap mengintai atlet profesional. Di Indonesia, beberapa petinju dan pesepak bola pernah tersandung perkara serupa, yang tidak hanya mengganggu karier tetapi juga citra publik. Bagi Cordina, pertarungan di dalam ring kini harus bersaing dengan pertarungan di ruang sidang.
Keputusan pengadilan kelak akan menentukan masa depan Cordina di dunia tinju. Jika terbukti bersalah, ia tak hanya menghadapi hukuman pidana, tetapi juga sanksi dari badan tinju profesional. Sebaliknya, jika bebas, ia masih harus menyelesaikan masalah visa agar dapat kembali bertarung di panggung internasional. Pertanyaannya, mampukah Cordina bangkit dari dua pukulan berat: hukum dan birokrasi?



