Api Misterius di Sleman: Pakar UGM Temukan Gas Hidrogen dari Limbah Ayam
Baca dalam 60 detik
- Tim PKPE UGM mengidentifikasi gas hidrogen dan fosfin sebagai pemicu kebakaran spontan di rumah warga Sleman yang berlangsung 97 kali dalam dua pekan.
- Fenomena ini dianggap kasus khusus karena tidak ditemukan di tempat pemotongan ayam lain, meski limbah serupa dikelola dengan cara berbeda.
- Rekomendasi penjenuhan air kapur pada tanah dan lantai diharapkan menekan aktivitas bakteri Clostridium penghasil gas mudah terbakar.

Fenomena kebakaran berulang yang melanda kediaman Mutfiana alias Fia di Seyegan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, akhirnya menemukan titik terang setelah tim pakar Universitas Gadjah Mada (UGM) mengidentifikasi sumber api misterius tersebut. Pusat Kajian Pelambatan Entropi (PKPE) Fakultas Teknik UGM menyimpulkan bahwa api muncul akibat akumulasi gas hidrogen (H2) yang dihasilkan dari fermentasi limbah organik pemotongan ayam—usaha yang telah dijalani keluarga Fia selama 16 tahun.
Asisten Profesor Departemen Teknik Geologi UGM, Sarju Winardi, yang tergabung dalam tim PKPE, mengungkapkan bahwa gas hidrogen diduga kuat bercampur dengan gas fosfin (PH3)—senyawa yang lebih mudah terbakar pada suhu kamar. Limbah berupa campuran kotoran, darah, dan bulu ayam yang menumpuk di penampungan selama lebih dari satu dekade menjadi medium ideal bagi bakteri anaerob Clostridium untuk memproduksi gas tersebut. "Kalau model pengelolaan limbah tempat lain, kami belum menemukan kasus serupa. Ini kasus khusus," ujar Sarju di Kantor Kecamatan Seyegan, Kamis (4/6).
Tim UGM menegaskan bahwa fenomena serupa secara ilmiah pernah tercatat di area bekas pembuangan sampah organik atau kuburan, namun belum pernah terjadi di tempat pemotongan ayam di Indonesia. Perbedaan utama terletak pada konfigurasi limbah dan aktivitas mikroorganisme yang mencapai puncak produksi gas. "Gas hidrogen baru keluar sekarang karena aktivitas bakteri sudah optimal. Kapasitasnya sudah puncak, sehingga merembet ke udara," jelas Sarju. Data di lapangan menunjukkan bahwa api telah muncul sebanyak 97 kali dalam hampir dua pekan, bahkan meluas ke ruko tempat keluarga Fia mengungsi sejak dua hari lalu.
Meski demikian, tim PKPE mengakui belum memiliki jawaban komprehensif mengapa kasus serupa tidak terjadi di tempat pemotongan ayam lain. Sarju menambahkan bahwa septic tank yang mengandung metana (CH4) sempat menjadi dugaan awal, namun setelah dikuras, api tetap muncul—memperkuat hipotesis bahwa hidrogenlah biang keladinya. "Dari kami, suspek confirmed adalah hidrogen," tegasnya. Bakteri Clostridium, yang bekerja dalam kondisi anaerob, disebut sebagai produsen utama gas tersebut. Semakin banyak jumlahnya, semakin cepat produksi gas.
Sebagai langkah mitigasi, tim UGM merekomendasikan penjenuhan cairan basa (air kapur) pada tanah dan lantai rumah untuk menekan populasi bakteri Clostridium. Langkah ini diharapkan mampu memutus rantai produksi gas hidrogen yang terus keluar secara sporadis. "Keluarnya gas tidak sporadis di satu tempat, tapi terus-menerus. Ini menandakan aktivitas bakteri sedang peak," ujar Sarju. Keluarga Fia sendiri telah mencatat lebih dari 65 titik api sejak teror dimulai, dan sebaran terus meluas ke bangunan sekitar.
Ke depan, fenomena ini membuka pertanyaan baru tentang pengelolaan limbah organik skala rumah tangga, khususnya usaha pemotongan ayam yang banyak tersebar di Indonesia. Apakah kasus di Sleman ini benar-benar anomali, atau hanya soal waktu sebelum kasus serupa muncul di tempat lain? Para pakar mendorong adanya penelitian lebih lanjut untuk memahami dinamika produksi gas hidrogen dari limbah peternakan, serta regulasi yang lebih ketat terhadap penampungan limbah organik jangka panjang.



