IHSG Terjun Bebas ke Level Terendah Setahun: Asing Lepas Saham Bank Besar-besaran
Baca dalam 60 detik
- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ambles 2,16% ke posisi 5.716,64 pada Jumat (5/6), menembus level terendah dalam satu tahun terakhir.
- Investor asing tercatat melakukan aksi jual bersih Rp1,27 triliun, dengan tekanan terbesar pada empat saham perbankan utama yang totalnya mencapai lebih dari Rp1,19 triliun.
- Koreksi beruntun ini dipicu oleh kombinasi sentimen global yang negatif dan aksi ambil untung investor, membuat pasar saham Indonesia semakin tertekan.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali mengalami tekanan berat pada perdagangan Jumat (5/6/2026), ditutup anjlok 2,16% ke level 5.716,64—posisi terendah dalam setahun terakhir. Aksi jual investor asing yang masif, terutama pada saham-saham perbankan jumbo, menjadi pemicu utama koreksi ini.
Sepanjang sesi, sebanyak 503 saham melemah, 301 saham stagnan, dan hanya 151 saham yang mampu bertahan di zona hijau. Volume transaksi mencapai 7,18 miliar lembar saham dengan nilai Rp6,41 triliun. Pasar dibuka optimistis dengan kenaikan tipis 0,11% ke level 5.846,49, namun tekanan jual langsung mendominasi. Kurang dari 20 menit setelah bel dibuka, IHSG sudah merosot ke posisi 5.750, atau turun 1,46%. Indeks sempat menyentuh level tertinggi 5.860 dan terendah 5.749 sepanjang hari.
Kinerja IHSG pada pekan ini memang suram. Sehari sebelumnya, Kamis (4/6), indeks sempat ambles hingga 5% ke titik 5.644,23 pada sesi pertama sebelum memangkas kerugian dan ditutup melemah 1,7% di 5.839,78. Pola serupa kembali terjadi pada Jumat, di mana aksi jual asing yang awalnya terbatas berubah menjadi banjir pesanan jual menjelang penutupan.
Data perdagangan mencatat, pada sesi pertama investor asing masih membukukan beli bersih sebesar Rp179 miliar. Namun, situasi berbalik drastis di akhir sesi. Total pembelian asing mencapai Rp12,52 triliun, sementara penjualan melonjak menjadi Rp13,79 triliun, menghasilkan net sell Rp1,27 triliun di seluruh pasar. Aksi jual terbesar terpusat pada empat bank raksasa: BBCA dilepas Rp475,5 miliar, BBRI Rp451,6 miliar, BMRI Rp164 miliar, dan BBNI Rp106,2 miliar. Secara agregat, foreign sell di sektor perbankan mencapai lebih dari Rp1,19 triliun.
Bagi investor domestik, tekanan jual asing ini menjadi sinyal waspada. Koreksi beruntun IHSG tidak hanya mencerminkan sentimen negatif global—seperti ekspektasi kenaikan suku bunga acuan di Amerika Serikat dan ketidakpastian ekonomi China—tetapi juga menunjukkan berkurangnya minat asing terhadap aset berisiko di pasar berkembang. Jika tren ini berlanjut, IHSG berpotensi menguji level support psikologis di 5.600, yang sebelumnya sempat disentuh pada sesi Kamis.
Analis pasar menilai, aksi jual asing yang agresif pada saham perbankan mengindikasikan kekhawatiran terhadap prospek sektor keuangan domestik, terutama terkait margin bunga bersih dan kualitas kredit di tengah perlambatan ekonomi. Pelemahan rupiah yang masih berlangsung turut memperburuk persepsi investor global terhadap Indonesia.
Ke depan, pergerakan IHSG akan sangat bergantung pada data inflasi Amerika Serikat pekan depan serta kebijakan Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar. Pertanyaan besarnya: akankah investor asing kembali masuk setelah aksi jual besar-besaran ini, atau justru tekanan jual akan semakin dalam?


