IHSG Ambruk 4,39% dalam 10 Menit, Perang Iran-Israel dan Defisit APBN Jadi Pemicu
Baca dalam 60 detik
- Indeks harga saham gabungan (IHSG) anjlok 4,39% ke 5.348,95 pada Senin pagi, dipicu serangan rudal Iran ke Israel dan kekhawatiran fiskal domestik.
- Aksi jual masif melanda 606 saham, dengan nilai transaksi Rp2,85 triliun dalam 10 menit pertama, menandakan kepanikan investor.
- Defisit APBN yang melebar tipis ke Rp180,4 triliun dan penguatan indeks dolar AS ke 100,069 menekan rupiah hingga Rp18.100/US$, mengancam stabilitas pasar keuangan Indonesia.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ambruk 4,39% dalam sepuluh menit pertama perdagangan Senin (8/6/2026), menyentuh level 5.348,95, setelah Iran dilaporkan meluncurkan rudal ke Israel pada akhir pekan dan data defisit APBN yang melebar tipis memicu kekhawatiran investor.
Tekanan jual terjadi secara masif. Sebanyak 606 saham tercatat melemah, sementara hanya 57 saham menguat dan 296 saham stagnan. Nilai transaksi mencapai Rp2,85 triliun dengan volume 3,77 miliar saham dan frekuensi 279 ribu kali. Koreksi sedalam ini dalam waktu singkat mengindikasikan kepanikan masih mendominasi sentimen pasar.
Serangan rudal Iran ke Israel pada Minggu (7/6/2026) menjadi pemicu utama. Ini adalah serangan pertama sejak gencatan senjata antara Teheran dan Washington pada April lalu. Ketua Parlemen Iran, Mohammed Baqer Ghalibaf, menuding blokade laut AS dan serangan Israel di Lebanon sebagai pelanggaran kesepakatan, dan menyatakan pangkalan AS serta aset Israel di kawasan menjadi target sah. Presiden AS Donald Trump menyebut aksi Iran tidak membantu negosiasi dan dilaporkan akan mendesak Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu untuk tidak membalas.
Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) menegaskan gencatan senjata hanya berlaku jika konflik dihentikan di seluruh front, termasuk Lebanon. Iran memperingatkan respons yang lebih luas jika serangan kembali terjadi. Ketegangan ini mengancam upaya perdamaian yang rapuh, dengan Iran menuntut penghentian perang di Lebanon dan pencabutan blokade AS, sementara Washington meminta Teheran menyerahkan material nuklirnya.
Dari dalam negeri, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dalam konferensi pers APBN KiTA pada Jumat (5/6/2026) menyatakan realisasi APBN hingga Mei 2026 terus menunjukkan tren positif. Defisit APBN tercatat Rp180,4 triliun atau 0,70% dari PDB, sedikit meningkat dari Rp164,4 triliun (0,64% PDB) pada April. Menkeu menegaskan defisit masih terjaga, terukur, dan sesuai desain APBN 2026, serta pembiayaan dikelola secara prudent dan fleksibel. Namun, di tengah gejolak perang yang mendorong harga energi naik, defisit fiskal menjadi sorotan tajam investor karena berpotensi meningkatkan biaya.
Indeks dolar AS melonjak ke 100,069, level tertinggi sejak akhir Maret 2026. Penguatan dolar ini menandai perburuan aset safe-haven, yang berpotensi memicu arus keluar modal (outflow) dari pasar emerging market seperti Indonesia. Rupiah yang sudah tertekan ke Rp18.000/US$ dalam sepekan terakhir semakin terpuruk ke Rp18.100/US$ pada perdagangan hari ini.
Bagi investor Indonesia, kombinasi risiko geopolitik global dan tekanan fiskal domestik menciptakan ketidakpastian ganda. Pasar saham dan nilai tukar rupiah menjadi garda depan yang merasakan dampaknya. Pertanyaan kunci ke depan adalah apakah eskalasi konflik Iran-Israel akan mereda atau justru memicu respons lebih luas, serta bagaimana pemerintah menjaga kepercayaan investor di tengah pelebaran defisit dan pelemahan rupiah.



