Bursa Asia Babak Belur: Kospi Ambruk 8% Usai Iran Serang Israel, IHSG Terancam
Baca dalam 60 detik
- Indeks Kospi Korea Selatan anjlok 8,4% pada perdagangan Senin (8/6) setelah Iran meluncurkan rudal ke Israel, memicu aksi jual massal di Asia.
- Tekanan ganda datang dari Wall Street yang sudah lebih dulu terpuruk pada akhir pekan, dengan Nasdaq jatuh 4,18% akibat data tenaga kerja AS yang memicu kekhawatiran suku bunga tinggi.
- Investor Indonesia perlu mewaspadai potensi capital outflow dan pelemahan rupiah, karena konflik Timur Tengah memperburuk sentimen risk-off global yang sudah rapuh.

Serangan rudal Iran ke Israel pada akhir pekan lalu membuat bursa saham Asia-Pasifik dibuka dengan tekanan jual besar-besaran pada Senin (8/6/2026), dengan indeks Kospi Korea Selatan ambrol hingga 8,4% dan Nikkei 225 Jepang merosot 3,4%. Aksi risk-off ini menjadi yang terburuk dalam beberapa bulan terakhir, mengguncang pasar keuangan regional di tengah eskalasi konflik Timur Tengah yang tak kunjung mereda.
Kekhawatiran investor tidak hanya bersumber dari ketegangan geopolitik. Pasar saham Amerika Serikat sudah lebih dulu babak belur pada akhir pekan lalu: Nasdaq Composite anjlok 4,18%โpenurunan harian terbesar sejak April 2025โsementara S&P 500 turun 2,64% dan Dow Jones kehilangan hampir 700 poin. Data ketenagakerjaan AS yang lebih kuat dari perkiraan memicu lonjakan imbal hasil obligasi dan memperkuat spekulasi bahwa suku bunga tinggi akan bertahan lebih lama, menekan valuasi saham teknologi dan sektor sensitif lainnya.
Kombinasi sentimen negatif dari Timur Tengah dan prospek moneter AS yang hawkish menciptakan badai sempurna bagi pasar Asia. Kontrak berjangka saham AS pada Minggu malam juga masih menunjukkan pelemahan, dengan futures Dow Jones turun 0,2%, serta futures S&P 500 dan Nasdaq 100 masing-masing melemah 0,2%. Ini menandakan tekanan jual belum akan segera berakhir.
Konteks Indonesia: Ancaman Capital Outflow dan Rupiah Tertekan
Bagi investor Indonesia, gejolak ini menjadi sinyal waspada. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan ikut tertekan dalam perdagangan Senin, mengingat aksi jual aset berisiko cenderung merata di kawasan. Lebih dari itu, penguatan dolar AS akibat flight-to-safety dan ekspektasi suku bunga tinggi berpotensi mendorong arus modal keluar (capital outflow) dari pasar saham dan obligasi Indonesia. Rupiah pun berpotensi terdepresiasi, memperberat beban impor dan inflasi domestik. Bank Indonesia kemungkinan akan semakin berhati-hati dalam kebijakan moneternya, mengingat tekanan eksternal yang kian kompleks.
Selain konflik Iran-Israel, investor Asia pekan ini juga akan mencermati rilis data inflasi AS, yakni indeks harga konsumen (CPI) dan indeks harga produsen (PPI). Jika data menunjukkan inflasi masih persisten, ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed akan semakin memudar, menekan lebih lanjut pasar saham global dan emerging market seperti Indonesia.
Pertanyaan besarnya kini: akankah eskalasi militer Iran-Israel berhenti atau justru meluas? Jika konflik berlarut-larut, aksi jual aset berisiko bisa berlangsung lebih lama, menguji ketahanan pasar Indonesia yang sudah dihadapkan pada tekanan eksternal dari kebijakan moneter AS. Investor disarankan untuk mengurangi eksposur spekulatif dan memperkuat posisi defensif, sembari menunggu kejelasan arah konflik dan data ekonomi AS pekan ini.



