Serangan Israel ke Lebanon Kembali Mengerek Harga Minyak, Konflik Timur Tengah Memanas
Baca dalam 60 detik
- Harga minyak mentah melonjak lebih dari 2 dolar AS per barel setelah Israel melancarkan serangan baru ke Lebanon, mengikis harapan gencatan senjata dan pembukaan kembali Selat Hormuz.
- OPEC+ kembali menambah pasokan, namun analis menilai keputusan itu tidak berdampak karena sebagian besar anggota tidak mampu memenuhi target akibat blokade Hormuz dan kerusakan infrastruktur Rusia.
- Eskalasi ini berpotensi memperpanjang tekanan pada harga energi global, yang berdampak langsung pada defisit neraca perdagangan Indonesia dan beban subsidi BBM.
Harga minyak mentah dunia kembali meroket lebih dari 2 dolar AS per barel pada Senin (8/6/2026) setelah Israel melancarkan serangan baru ke Lebanon, meskipun kedua negara telah menyepakati gencatan senjata beberapa hari sebelumnya. Langkah ini menghancurkan optimisme pasar terhadap penyelesaian konflik yang lebih luas dan pemulihan arus minyak melalui Selat Hormuz, jalur vital bagi pasokan energi global.
Patokan AS, West Texas Intermediate (WTI), melonjak 2,32 persen menjadi 92,64 dolar AS per barel, sementara Brent naik 2,5 persen ke 95,42 dolar AS. Kenaikan ini hampir menghapus seluruh pelemahan yang terjadi pada Jumat lalu ketika pasar sempat bergairah oleh prospek meredanya ketegangan antara AS dan Iran. Konflik yang dipicu oleh serangan AS dan Israel ke Iran pada Februari lalu itu kini memasuki babak baru yang lebih rumit.
Serangan terbaru Israel di Beirut, yang menargetkan sekutu Iran, Hizbullah, langsung dibalas dengan peluncuran rudal oleh Iran ke Israel. Presiden AS Donald Trump dilaporkan akan meminta Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu untuk tidak membalas serangan Iran, namun ketegangan tetap tinggi. Iran telah menjadikan gencatan senjata di Lebanon sebagai prasyarat untuk mencapai kesepakatan damai dengan Washington, sehingga serangan ini secara efektif menutup pintu negosiasi.
Sebelumnya, Israel menginvasi Lebanon pada Maret setelah Hizbullah menembakkan roket dan drone ke wilayah Israel. Gencatan senjata yang disepakati pada 3 Juni lalu di Washington ternyata rapuh; sebelumnya, pada April, kedua negara juga pernah menyetujui penghentian permusuhan namun kekerasan terus berlanjut. Kini, perang yang lebih luas antara AS-Israel melawan Iran memang telah berhenti sejak awal April, tetapi Iran masih memblokade sebagian besar pengiriman melalui Selat Hormuz.
Di tengah krisis pasokan ini, OPEC+ pada hari Minggu menyetujui peningkatan produksi minyak untuk keempat kalinya dalam empat bulan. Namun, para analis meragukan efektivitas langkah tersebut. Sebagian besar anggota OPEC+ tidak mampu memenuhi target produksi karena blokade Hormuz, sementara Rusia mengalami penurunan kapasitas akibat serangan terhadap infrastruktur energinya. "Di pasar saat ini, dampak fisik dari keputusan semacam itu mendekati nol," ujar Jorge Leon, kepala analisis geopolitik Rystad Energy, dalam sebuah catatan riset.
Bagi Indonesia, eskalasi ini menjadi alarm tersendiri. Sebagai negara pengimpor minyak bersih, setiap kenaikan harga minyak mentah akan memperlebar defisit neraca perdagangan dan membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) melalui subsidi energi. Pemerintah yang tengah berupaya menjaga daya beli masyarakat di tengah tekanan inflasi global harus bersiap menghadapi potensi kenaikan harga BBM dalam negeri jika tren ini berlanjut. Selain itu, ketidakpastian pasokan dari Timur Tengah juga mengancam ketahanan energi nasional yang masih bergantung pada impor.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah gencatan senjata yang rapuh antara Israel dan Lebanon dapat bertahan, atau justru akan memicu siklus balas dendam yang lebih luas. Jika Iran tetap menjadikan gencatan senjata di Lebanon sebagai syarat negosiasi dengan AS, maka blokade Selat Hormuz kemungkinan akan berlangsung lebih lama. Dalam skenario itu, harga minyak bisa terus melambung, dan OPEC+ mungkin akan kehabisan opsi untuk menstabilkan pasar. Indonesia pun harus segera mencari alternatif pasokan dan mempercepat transisi energi agar tidak terus terjebak dalam gejolak geopolitik yang tak kunjung reda.



