Enam Hari di Zona Kematian: Kisah Pemandu Nepal yang Selamat dari Gunung Everest
Baca dalam 60 detik
- Pemandu Nepal Dawa Sherpa ditemukan hidup setelah enam hari terpisah di zona kematian Everest, sebuah kejadian yang disebut sebagai keajaiban medis.
- Mantan tentara Inggris Chris Thrall menceritakan momen terakhirnya melihat Sherpa sebelum fokus menyelamatkan pendaki lain yang mengalami radang dingin parah.
- Musim pendakian Everest tahun ini mencatat rekor dengan lebih dari seribu pendaki mencapai puncak, namun lima orang dilaporkan tewas.

Seorang pemandu gunung asal Nepal, Dawa Sherpa, berhasil bertahan hidup selama enam hari sendirian di zona kematian Gunung Everest sebelum akhirnya ditemukan oleh tim pembersih pada Kamis lalu. Kisahnya menjadi sorotan dunia pendakian karena dianggap melampaui batas kemampuan manusia.
Dawa Sherpa, yang juga dikenal dengan nama Hillary Dawa Sherpa—diambil dari nama pendaki legendaris Edmund Hillary—terpisah dari rombongannya saat turun dari puncak Everest. Rekan pendakiannya, Chris Thrall, mantan tentara Inggris, mengaku masih sulit percaya bahwa Sherpa selamat. "Satu menit saya menahan air mata bersama putrinya, menit berikutnya dia merangkak masuk ke kota. Sungguh di luar kata-kata," ujar Thrall kepada BBC Newshour.
Thrall menceritakan bahwa ia melihat Sherpa duduk di atas ranselnya untuk beristirahat sejenak saat mereka menuruni gunung. Thrall kemudian melewati Sherpa dan turun sekitar 50-100 meter sebelum bertemu dengan pendaki Polandia yang kehabisan oksigen dan menderita radang dingin parah. "Perhatian saya langsung beralih ke anggota terlemah dalam kelompok. Dan itu saja," kenang Thrall. Saat ia menoleh ke belakang, Sherpa tak terlihat bergerak atau turun.
Sherpa terakhir terlihat di atas Kamp 3, pada ketinggian sekitar 7.500 meter. Selama enam hari, tidak ada tanda-tanda keberadaannya. Istrinya bahkan sudah mulai mengadakan doa terakhir untuk arwahnya. Namun, perlahan-lahan Sherpa berhasil turun sendiri hingga ditemukan oleh kru pembersih yang sedang bekerja di gunung.
Pemba Sherpa, direktur eksekutif 8K Expeditions yang mengawasi upaya pencarian, menyebut peristiwa ini sebagai "penyelamatan diri sejati". "Dawa berhasil bertahan melawan segala rintangan selama berhari-hari. Ini tidak kurang dari sebuah keajaiban," katanya.
Dokter Nishant Dhakal dari Rumah Sakit HAMS di Kathmandu mengatakan Sherpa dalam kondisi sadar dan bisa berbicara. "Kami menangani radang dingin, cedera akibat dingin, dehidrasi, dan trauma. Dia akan terus dievaluasi di ICU," jelasnya. Putri Sherpa, Mhendo Lhamo Sherpa, mengaku lega setelah mengunjungi ayahnya. "Dia mengenali saya, baik-baik saja, dan bisa bicara. Kami bahagia," katanya kepada Reuters.
Kisah ini menjadi pengingat akan bahaya ekstrem pendakian Everest, terutama di tengah lonjakan jumlah pendaki. Musim ini tercatat sebagai yang tersibuk dalam sejarah dengan lebih dari seribu orang mencapai puncak. Namun, angka kematian juga meningkat. Bagi pendaki Indonesia yang bermimpi menaklukkan Everest, kasus Sherpa menegaskan pentingnya kesiapan fisik, mental, dan perlengkapan darurat. Zona kematian bukan tempat untuk mengambil risiko, dan keberuntungan semata tidak bisa diandalkan.
Ke depan, pertanyaan besar muncul: apakah rekor jumlah pendaki akan terus bertambah, atau justru memicu regulasi lebih ketat dari pemerintah Nepal? Dengan semakin banyaknya pendaki amatir yang nekat, insiden seperti yang dialami Sherpa mungkin bukan yang terakhir.



