Puluhan Ribu Teripang Merah Muda Terdampar di Pantai Thailand, Warga Diimbau Tidak Menyentuh
Baca dalam 60 detik
- Fenomena langka teripang merah muda (Cercodemas anceps) terdampar massal di Suan Son Beach, Rayong, Thailand, diduga akibat cuaca buruk dan gelombang tinggi.
- Kementerian Sumber Daya Alam Thailand memerintahkan investigasi darurat, namun hasil awal menunjukkan tidak ada indikasi pencemaran atau gangguan ekosistem yang signifikan.
- Otoritas setempat mengimbau wisatawan untuk menghindari kontak langsung karena beberapa spesies teripang dapat mengeluarkan zat iritan bagi kulit sensitif.

Pemandangan tak lazim menyambut pengunjung Suan Son Beach di Provinsi Rayong, Thailand timur, ketika ribuan teripang berwarna merah muda terdampar di sepanjang garis pantai sepanjang beberapa ratus meter. Warna merah jambu yang mencolok itu sontak menarik perhatian sekaligus menimbulkan kekhawatiran di kalangan wisatawan dan warga setempat.
Menteri Sumber Daya Alam dan Lingkungan Thailand, Suchart Chomklin, langsung menginstruksikan Departemen Kelautan dan Sumber Daya Pesisir untuk melakukan verifikasi faktual dan mengkaji dampak potensial dari fenomena ini. Langkah tersebut diambil untuk memberikan informasi akurat kepada publik serta memantau situasi secara ketat.
Hasil investigasi awal oleh Kantor Sumber Daya Kelautan dan Pesisir 1 bersama instansi terkait mengidentifikasi bahwa hewan laut yang terdampar adalah teripang merah muda atau pink warty sea cucumber dengan nama ilmiah Cercodemas anceps. Spesies invertebrata ini hidup di dasar laut, bertubuh lunak silindris menyerupai mentimun atau sosis, dengan kulit berbintil kecil dan warna berkisar dari merah muda terang hingga jingga kemerahan.
Para ahli sumber daya kelautan menjelaskan bahwa teripang memainkan peran vital sebagai "pembersih laut" karena mengurai sisa-sisa organisme dan materi organik yang mengendap di dasar berpasir, membantu sirkulasi nutrisi dan menjaga kualitas ekosistem bawah air. Fenomena terdamparnya massal ini dinilai sebagai peristiwa alam langka di kawasan tersebut.
Menurut penilaian awal, fenomena ini kemungkinan besar dipicu oleh badai dan kondisi laut yang ganas dalam periode terakhir, yang mendorong teripang dari dasar laut ke pesisir dalam jumlah besar. Sejauh ini, belum ditemukan indikasi pencemaran abnormal atau faktor lain yang memengaruhi ekosistem laut. "Situasi terus dipantau dan dievaluasi secara berkelanjutan. Belum ada informasi yang menunjukkan pencemaran atau faktor lain yang mengganggu ekosistem," ujar seorang pejabat terkait.
Meskipun sebagian besar teripang tidak berbahaya bagi manusia, Departemen Kelautan dan Sumber Daya Pesisir tetap mengimbau wisatawan dan masyarakat untuk menghindari kontak langsung. Beberapa spesies teripang dapat mengeluarkan zat pertahanan diri saat stres atau terganggu, yang berpotensi menyebabkan iritasi pada kulit sensitif atau penderita alergi.
Fenomena ini menjadi tontonan langka yang mencerminkan keanekaragaman hayati ekosistem laut Thailand. Otoritas setempat terus mengumpulkan data lebih lanjut untuk mempelajari penyebab dan dampak jangka panjang. Pertanyaan yang mengemuka: apakah peristiwa ini hanya siklus alam biasa, atau pertanda perubahan ekosistem yang lebih besar akibat dinamika iklim?



