Musim Semi Tokyo Dihajar Serbuk Sari: Kadar Melonjak 1,8 Kali Lipat, Warga Waspada
Baca dalam 60 detik
- Konsentrasi serbuk sari sugi dan hinoki di Tokyo pada musim semi 2026 mencapai 8.451 butir per sentimeter persegi, tertinggi dalam satu dekade terakhir.
- Kenaikan ini dipicu oleh siklus produksi serbuk sari yang tinggi dan kondisi cuaca yang mendukung, memperparah gejala alergi bagi jutaan penduduk.
- Puncak musim serbuk sari telah berlalu, namun jenis rumput dan gulma Asteraceae akan segera melepaskan serbuk sari pada akhir musim panas, memperpanjang masa risiko.

Warga Tokyo harus bersiap menghadapi musim alergi yang lebih berat tahun ini. Pemerintah Metropolitan Tokyo melaporkan bahwa jumlah serbuk sari cedar dan cypress di udara selama musim semi 2026 melonjak hingga 1,8 kali lipat dibandingkan tahun lalu, mencapai rata-rata 8.451 butir per sentimeter persegi di 12 titik pemantauan.
Angka tersebut jauh melampaui rata-rata sepuluh tahun terakhir sebesar 5.790 butir per sentimeter persegi. Menurut data awal dari Lembaga Kesehatan Masyarakat Tokyo, konsentrasi tertinggi tercatat di Kota Ome, Tokyo bagian barat, dengan 22.937 butir per sentimeter persegi. Disusul Tachikawa (12.603), Tama (8.608), dan Machida (7.975). Di antara 23 distrik khusus Tokyo, Suginami mencatat angka tertinggi dengan 6.765 butir per sentimeter persegi.
Kenaikan drastis ini bukanlah kejutan bagi para ahli. Siklus produksi serbuk sari pohon cedar dan cypress di Jepang sangat dipengaruhi oleh suhu musim panas tahun sebelumnya. Musim panas 2025 yang panas dan kering mendorong pembentukan kuncup bunga yang lebih banyak, sehingga musim semi 2026 menghasilkan pelepasan serbuk sari yang eksplosif. Fenomena serupa pernah terjadi pada tahun-tahun dengan lonjakan signifikan, seperti 2019 dan 2023.
Bagi penduduk Tokyo, dampaknya langsung terasa. Rumah sakit dan klinik alergi melaporkan peningkatan jumlah pasien dengan gejala rhinitis alergi, konjungtivitis, dan serangan asma. Penjualan masker, kacamata pelindung, dan obat antihistamin melonjak. Pemerintah daerah mengimbau warga untuk memantau prakiraan serbuk sari harian dan mengurangi aktivitas di luar ruangan saat konsentrasi tinggi.
Meskipun puncak musim serbuk sari cedar dan cypress telah berlalu β dengan dispersi cedar berakhir di semua lokasi pada 13 Mei β risiko alergi belum sepenuhnya hilang. Lembaga Kesehatan Masyarakat Tokyo memperingatkan bahwa rumput seperti orchard grass akan segera mulai melepaskan serbuk sari, dan pada akhir musim panas, giliran ragweed serta tanaman Asteraceae lainnya yang menjadi sumber alergen. Artinya, penderita alergi di Tokyo harus tetap waspada hingga musim gugur.
Fenomena ini relevan bagi Indonesia, terutama bagi warga yang berencana bepergian ke Jepang. Musim semi dan gugur adalah periode puncak alergi serbuk sari di Jepang. Wisatawan Indonesia yang memiliki riwayat alergi disarankan membawa obat antihistamin dan masker cadangan. Selain itu, perubahan iklim global dikhawatirkan akan memperpanjang musim serbuk sari dan meningkatkan intensitasnya di tahun-tahun mendatang, tidak hanya di Jepang tetapi juga di negara-negara subtropis lainnya.
Pertanyaan yang kini mengemuka: apakah Tokyo akan mampu mengelola dampak kesehatan dari lonjakan serbuk sari yang semakin tidak terduga ini? Upaya penanaman pohon cedar yang masif di masa lalu kini menjadi bumerang, dan pemerintah Jepang tengah mendorong program penebangan serta penggantian dengan spesies yang lebih rendah alergi. Namun, hasilnya baru akan terasa dalam beberapa dekade. Sampai saat itu tiba, warga Tokyo dan para pengunjung harus hidup berdampingan dengan serbuk sari yang kian agresif.



