Pirlo Lawan Kritik, Ketua FIGC Bungkam: Isyarat Bahaya bagi Pencalonan Pelatih Legendaris?
Baca dalam 60 detik
- Andrea Pirlo menilai kritik terhadap pencalonannya sebagai pelatih timnas Italia sebagai tindakan instrumental dan munafik.
- Pertentangan datang dari berbagai kalangan politik, mulai dari presiden senat hingga menteri olahraga, yang meragukan kapasitas dan afiliasi Pirlo.
- Ketua FIGC Giovanni Malagò gagal memberikan dukungan langsung pada akhir pekan, memicu spekulasi bahwa pencalonan Pirlo mungkin gagal.

Andrea Pirlo angkat bicara menanggapi gelombang kritik yang menyambut pencalonannya sebagai pelatih timnas Italia. Dalam pernyataan yang disampaikan dari pemusatan latihan di Austria bersama klub Dubai-nya, ia menolak tuduhan bahwa dirinya tidak layak memegang kursi panas Azzurri. Pirlo menyebut kritik itu sebagai tindakan yang tidak berdasar dan penuh kemunafikan.
Eks pemain legendaris ini mempertanyakan mengapa Piala Dunia sebelumnya digelar di Amerika Serikat, negara yang menurutnya sedang berperang dengan Iran. Pernyataan itu disampaikan di hadapan awak media sebagaimana dilaporkan Corriere della Sera. Pirlo seolah memberi sinyal bahwa standar moral yang diterapkan padanya tidak konsisten bila dibandingkan dengan standar negara-negara lain.
Penolakan terhadap Pirlo datang dari spektrum politik yang luas. Presiden Senat Ignazio La Russa secara sinis menyebut langkah ini sebagai lompatan ke dalam kegelapan dan memperingatkan bahwa gunung mungkin hanya melahirkan tikus. Menteri Olahraga Andrea Abodi juga skeptis, bahkan menilai pendekatan sebelumnya terhadap Pep Guardiola sebagai sebuah perjudian. Sementara itu, politisi dari Partai Demokrat, Azione, dan Europa+ mendesak Pirlo untuk memutuskan hubungan dengan sponsor judi Fonbet—sebuah permintaan yang sebenarnya tak relevan karena jabatan pelatih nasional secara otomatis melarang keterlibatan semacam itu.
“Tidak ada satu pun pelatih baru yang mendapatkan sambutan sekeras ini. Para pengamat tua mengingat perlakuan serupa terhadap Enzo Bearzot di tahun 1970-an sebelum ia menjadi pahlawan nasional,” tulis media Italia dalam analisisnya.
Konflik ini juga menyoroti isu tata kelola sepak bola yang kerap kali menjadi polemik di berbagai negara, tidak terkecuali Indonesia. Di Tanah Air, pemilihan pelatih timnas seringkali diwarnai tekanan politik dan opini publik yang terbelah. Kasus Pirlo mengingatkan pada dinamika serupa ketika PSSI harus memilih antara pelatih lokal dan asing, serta tarik-ulur kepentingan sponsor dan federasi. Situasi ini menegaskan bahwa masalah transparansi dan akuntabilitas dalam federasi sepak bola adalah isu global.
Sinyal paling mengkhawatirkan datang dari Presiden FIGC Giovanni Malagò. Setelah memberikan dukungan telepon pada Kamis lalu, ia tidak lagi menghubungi Pirlo pada akhir pekan. Keheningan itu ditafsirkan sebagai keraguan. Malagò kini harus memutuskan apakah akan mengonfirmasi pilihan Paolo Maldini atau justru mundur dari rencana tersebut. Keputusan itu diperkirakan akan diambil dalam waktu dekat, dan akan menentukan masa depan kursi pelatih timnas Italia.
Apakah Pirlo akan tetap menjadi pilihan utama atau FIGC akan mundur di bawah tekanan? Publik Italia dan penggemar sepak bola dunia menanti sikap akhir federasi. Bagi Indonesia, drama semacam ini menjadi pengingat bahwa kredibilitas dan independensi federasi adalah fondasi yang tak boleh ditawar demi kemajuan sepak bola nasional.



