Strictly Come Dancing Ganti Strategi: Penari Baru Dipilih Lewat Popularitas Media Sosial
Baca dalam 60 detik
- Lima penari profesional baru bergabung dengan Strictly Come Dancing untuk musim 2026, dipilih karena kemampuan menari sekaligus basis pengikut media sosial yang kuat.
- Langkah ini merupakan bagian dari strategi BBC untuk memperbanyak konten digital dan menjangkau penonton muda yang lebih aktif di platform daring.
- Fenomena serupa juga mulai terlihat di industri hiburan Indonesia, di mana popularitas online menjadi pertimbangan dalam pemilihan peserta acara televisi.

Strictly Come Dancing secara resmi memperkenalkan lima penari profesional anyar yang tidak hanya jago bergerak di lantai dansa, tetapi juga memiliki pengaruh besar di jagat maya. Langkah ini menjadi sinyal perubahan strategi acara dansa legendaris BBC tersebut dalam menghadapi era digital, di mana konten media sosial dinilai sama pentingnya dengan siaran televisi utama.
Para penari baru itu adalah Maddie Ingoldsby (Inggris), Aleksandra Isaeva (Ukraina), Cristian Priori (Italia), Lethabo Monametsi (Afrika Selatan), dan Mark Karmalita (Kanada). Mereka umumnya masih sangat muda—Maddie tercatat pernah tampil di Strictly pada usia 11 tahun—dan telah mengoleksi prestasi internasional, seperti gelar juara Latin Italia empat kali yang diraih Cristian Priori.
Menurut sumber yang dikutip The Telegraph, pengumuman ini merupakan bagian dari rencana besar untuk memperbanyak konten daring. “Strictly kini tidak hanya soal tayangan akhir pekan. Penonton bisa mengakses konten kapan pun dan di mana pun,” ujar sang sumber. “Mereka semua antusias dan secara organik sudah memiliki pengikut setia di media sosial.”
Keputusan ini bukan tanpa konsekuensi. Beberapa penari senior seperti Karen Hauer, Nadiya Bychkova, Luba Mushtuk, Gorka Marquez, dan Michelle Tsiakkas harus terdepak dari line-up. Sebelumnya, beredar kabar bahwa jumlah pengikut di media sosial menjadi salah satu faktor penentu siapa yang bertahan. Dianne Buswell, misalnya, tetap dipertahankan berkat 1,2 juta pengikutnya.
Fenomena ini juga relevan untuk Indonesia. Ajang pencarian bakat seperti Indonesian Idol, D'Academy, atau bahkan kompetisi tari lokal mulai mempertimbangkan popularitas kontestan di Instagram dan TikTok sebagai nilai jual. Produser acara tidak hanya mencari bakat mentah, tetapi juga calon bintang yang sudah memiliki basis penggemar daring. Strategi serupa diyakini dapat mempercepat pertumbuhan audiens dan memperkuat interaksi dengan penonton muda.
Sarah James, produser eksekutif BBC Studios, menyambut antusias para pendatang baru. “Aleksandra, Cristian, Lethabo, Maddie, dan Mark adalah penari kelas dunia. Kami tak sabar melihat mereka bersinar di bawah lampu glitterball,” katanya. Sementara itu, Jo Wallace dari BBC Entertainment menambahkan, “Mereka adalah lima alasan lagi mengapa seri baru ini wajib ditonton.”
Sejumlah selebritas juga telah dikonfirmasi sebagai peserta, termasuk Lacey Turner, Dani Dyer, Delta Goodrem, dan Chris Appleton. Musim ini juga menjadi pertama kalinya Emma Willis, Josh Widdecombe, dan Johannes Radebe bertindak sebagai pembawa acara, menggantikan Claudia Winkleman dan Tess Daly.
Pertanyaan yang kini mengemuka: apakah keputusan berbasis jumlah pengikut akan menggeser esensi bakat di atas panggung? Atau justru menjadi keniscayaan di era ketika engagement digital menjadi tolok ukur kesuksesan? Strictly Come Dancing tampaknya sudah menjawab dengan langkah berani mereka.



