IHSG Anjlok 33,68% Sepanjang 2025: Kekayaan 7 dari 10 Konglomerat Terkoreksi, Siapa yang Bertahan?
Baca dalam 60 detik
- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ambles 3,48% dalam sehari dan mencatat koreksi year-to-date sebesar 33,68%, terburuk dalam beberapa tahun terakhir.
- Tujuh dari sepuluh konglomerat Indonesia versi Forbes mengalami penurunan kekayaan signifikan, dengan Prajogo Pangestu kehilangan 8,23% hartanya dalam sehari.
- Dua pendiri DCI Indonesia, Otto Toto Sugiri dan Marina Budiman, justru mencatat kenaikan tipis, menunjukkan sektor teknologi masih menjadi penopang di tengah tekanan pasar.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali mengalami pukulan telak pada perdagangan sesi I hari ini, ditutup ambles 206,81 poin atau 3,48% ke level 5.734,26. Koreksi ini memperpanjang tren negatif yang telah berlangsung sepanjang tahun, dengan akumulasi penurunan year-to-date mencapai 33,68% โ menjadikannya salah satu kinerja terburuk di antara bursa Asia Tenggara.
Guncangan di pasar modal langsung berdampak pada pundi-pundi kekayaan para taipan Tanah Air. Berdasarkan data Forbes Real-Time, mayoritas konglomerat Indonesia mencatatkan penyusutan harta dalam sehari terakhir. Prajogo Pangestu, yang sebelumnya bertengger di jajaran 30 orang terkaya dunia, kini terlempar ke peringkat 178 global. Kekayaannya susut 8,23% menjadi US$16,4 miliar, meski masih memuncaki daftar orang terkaya Indonesia.
Di posisi kedua, Low Tuck Kwong, raja batu bara pemilik kekayaan US$14,2 miliar, mencatat penurunan tipis 0,44%. Sementara Robert Budi Hartono dari Grup Djarum mengalami koreksi lebih dalam, yakni 7,53%, sehingga hartanya kini US$13,8 miliar. Anthoni Salim (Grup Salim) kehilangan 4,31% menjadi US$10,1 miliar, dan Tahir (Grup Mayapada) ambles 6,21% ke US$8,3 miliar.
Menariknya, di tengah kepanikan pasar, dua nama justru menorehkan catatan positif. Otto Toto Sugiri, yang dijuluki "Bill Gates-nya Indonesia", menambah kekayaannya 0,40% menjadi US$7,8 miliar. Rekan bisnisnya, Marina Budiman, juga naik 0,42% ke US$5,6 miliar. Keduanya adalah pendiri DCI Indonesia, perusahaan data center yang sahamnya masih diminati investor di tengah gejolak sektor komoditas dan perbankan.
Koreksi IHSG yang dalam ini mencerminkan tekanan eksternal dan domestik. Di tingkat global, ketidakpastian suku bunga acuan AS dan perlambatan ekonomi China menjadi beban utama. Sementara di dalam negeri, arus keluar modal asing dan kekhawatiran terhadap kebijakan fiskal pemerintah turut memperberat. Bagi investor ritel Indonesia, pelemahan ini menjadi pengingat akan risiko konsentrasi portofolio pada saham-saham berkapitalisasi besar yang terkait erat dengan konglomerat.
Pertanyaan kritis yang kini mengemuka: akankah IHSG mampu bangkit kembali dalam waktu dekat, atau justru koreksi ini adalah awal dari tren bearish berkepanjangan? Dengan data ekonomi kuartal kedua yang akan dirilis dalam beberapa pekan mendatang, pasar akan mencari sinyal pemulihan โ atau justru konfirmasi bahwa tekanan belum berakhir.



