IHSG Bisa Kembali ke 9.000: Syarat Utamanya Defisit Fiskal di Bawah 3%
Baca dalam 60 detik
- Rebalancing MSCI menjadi pemicu net sell asing yang menekan IHSG hingga ke level 6.000-an pada akhir Mei 2026.
- Keputusan MSCI mempertahankan status emerging market Indonesia dinilai mampu memulihkan kepercayaan investor, didukung perbaikan tata kelola bursa.
- Proyeksi IHSG mencapai 9.000โ10.000 mensyaratkan kepastian kebijakan, defisit fiskal di bawah 3%, dan kepatuhan terhadap ketentuan MSCI.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpotensi kembali ke level 9.000 hingga 10.000, namun syaratnya tidak sederhana: pemerintah harus mampu menjaga defisit fiskal di bawah 3% dan menghilangkan ketidakpastian kebijakan. Proyeksi ini disampaikan oleh Direktur Utama PT Sucor Sekuritas, Bernadus Wijaya, di tengah tekanan jual asing yang sempat mendorong IHSG ke kisaran 6.000-an pada akhir Mei 2026.
Menurut Bernadus, aksi jual bersih (net sell) investor asing yang terjadi belakangan ini dipicu oleh sentimen rebalancing indeks MSCI. Namun, ia menilai bahwa keputusan MSCI untuk tetap mempertahankan status Indonesia sebagai emerging market justru menjadi katalis positif. โKepercayaan pasar terhadap keputusan MSCI bisa mendorong penguatan, asalkan diikuti dengan perbaikan tata kelola bursa dan stabilitas kebijakan,โ ujarnya dalam acara Power Lunch CNBC Indonesia, Selasa (2/6/2026).
Di sisi lain, ketidakpastian global masih membayangi. Konflik Timur Tengah yang belum mereda meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap potensi kenaikan suku bunga acuan bank sentral, termasuk The Fed. Hal ini bisa memicu arus modal keluar dari pasar emerging market, termasuk Indonesia. Oleh karena itu, Bernadus menekankan bahwa selain faktor domestik, stabilitas geopolitik juga menjadi variabel penting yang harus dipantau.
Bagi investor Indonesia, proyeksi ini memberikan gambaran bahwa pemulihan IHSG sangat bergantung pada konsistensi kebijakan fiskal dan moneter. Pemerintah perlu menjaga defisit APBN di bawah 3% untuk mempertahankan kepercayaan pasar, sekaligus memastikan tidak ada perubahan regulasi yang mendadak. Selain itu, kepatuhan terhadap standar MSCI, terutama dalam hal transparansi dan tata kelola perusahaan, menjadi prasyarat agar aliran dana asing kembali masuk.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah pemerintah dan otoritas bursa mampu memenuhi syarat-syarat tersebut di tengah tekanan global yang masih tinggi. Jika berhasil, IHSG bukan hanya bisa kembali ke level 9.000, tetapi juga berpotensi menembus rekor baru. Namun, jika ketidakpastian kebijakan dan defisit fiskal membengkak, target tersebut bisa semakin sulit tercapai.


