Naira Melemah, Cadangan Devisa Nigeria Tembus 50 Miliar Dolar AS
Baca dalam 60 detik
- Naira terdepresiasi 0,26% terhadap dolar AS di pasar resmi Nigeria akibat penurunan volume transaksi antar bank hingga 37%.
- Cadangan devisa Nigeria melonjak di atas 50 miliar dolar AS, tertinggi sejak reformasi nilai tukar, didorong penerimaan minyak dan remitansi.
- Analis memperkirakan cadangan bisa mencapai 51 miliar dolar AS pada Juni jika tidak ada pembayaran utang besar, namun tekanan likuiditas masih membayangi naira.

Naira Nigeria kembali tertekan terhadap dolar Amerika Serikat di tengah menyusutnya likuiditas valuta asing di pasar resmi, meskipun cadangan devisa negara itu justru menembus rekor tertinggi pasca-reformasi. Pada Jumat lalu, nilai tukar naira di Nigeria Foreign Exchange Market (NFEM) melemah menjadi 1.362,21 per dolar AS dari posisi sebelumnya 1.358,75, menurut data harian Bank Sentral Nigeria (CBN).
Pelemahan ini terjadi saat volume transaksi antar bank merosot tajam lebih dari 37 persen dalam sehari, dari 128,17 juta dolar AS menjadi hanya 73,57 juta dolar AS yang terbagi dalam 90 transaksi. Kondisi tersebut mencerminkan minimnya partisipasi investor asing di pasar uang, yang selama ini menjadi salah satu sumber pasokan dolar. Tanpa lelang surat berharga OMO yang memadai, permintaan terhadap naira pun ikut tergerus.
Namun di sisi lain, posisi cadangan devisa Nigeria justru menunjukkan kinerja gemilang. Data pergerakan cadangan yang diakses oleh MarketForces Africa pada Kamis lalu mencatat bahwa gross external reserves telah melampaui angka 50 miliar dolar AS—level tertinggi sejak rezim nilai tukar mengambang diberlakukan. Lonjakan ini ditopang oleh aliran masuk dari penerimaan minyak dan remitansi yang terus mengalir ke kas CBN.
Beberapa ekonom dan analis pasar yang dihubungi MarketForces Africa memperkirakan, tanpa adanya pembayaran utang luar negeri yang signifikan pada semester pertama tahun ini, cadangan devisa Nigeria berpotensi menyentuh 51 miliar dolar AS pada Juni mendatang. Optimisme ini muncul di tengah langkah CBN yang baru-baru ini menaikkan suku bunga surat berharga negara (Treasury Bills) untuk menarik minat investor.
Bagi Indonesia, dinamika nilai tukar dan cadangan devisa Nigeria menawarkan pelajaran berharga. Sebagai sesama negara emerging market yang bergantung pada komoditas, tekanan likuiditas valas akibat minimnya partisipasi asing bisa menjadi sinyal waspada. Di sisi lain, pengelolaan cadangan devisa yang kuat—seperti yang ditunjukkan Nigeria—dapat menjadi bantalan saat gejolak nilai tukar terjadi. Namun, ketergantungan pada penerimaan minyak tetap menjadi kerentanan struktural yang perlu diantisipasi.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah CBN mampu menjaga stabilitas naira di tengah tekanan likuiditas yang masih berlanjut, ataukah rekor cadangan devisa justru akan menjadi pemicu apresiasi jika dikelola dengan kebijakan yang tepat. Pasar akan terus mencermati langkah bank sentral dalam mengelola pasokan dolar dan suku bunga ke depan.


