Energi Surya dan Angin Kalahkan Gas Bumi: Tonggak Baru Transisi Energi Global
Baca dalam 60 detik
- Untuk pertama kalinya, pembangkit listrik tenaga surya dan angin secara global melampaui produksi gas alam pada April 2026, menandai pergeseran signifikan dalam bauran energi dunia.
- Rekor panas global diprediksi terus berlanjut hingga 2030, dengan probabilitas 91 persen suhu bumi melampaui ambang 1,5°C, mendorong urgensi akselerasi energi terbarukan.
- Penemuan spesies terong endemik baru di Kalimantan oleh BRIN menjadi pengingat potensi biodiversitas Indonesia yang belum tergarap, sekaligus sumber genetik untuk ketahanan pangan di tengah krisis iklim.

Untuk pertama kalinya dalam sejarah, pembangkit listrik tenaga surya dan angin secara global berhasil memproduksi lebih banyak listrik dibandingkan gas alam pada April 2026. Capaian ini menjadi bukti bahwa transisi energi bersih bukan lagi sekadar wacana, melainkan realitas yang mulai mengubah peta energi dunia di tengah krisis iklim yang kian akut.
Menurut laporan terbaru dari Ember, lembaga riset energi independen yang berbasis di London, pada April 2026 energi angin dan surya menghasilkan 531 terawatt-jam (TWh) listrik, unggul 54 TWh dari pembangkit gas yang hanya mencapai 477 TWh. Lonjakan ini terjadi di saat ketegangan geopolitik di Timur Tengah memicu volatilitas harga bahan bakar fosil, justru mempercepat pertumbuhan energi terbarukan. Sebagai perbandingan, pada April 2021, produksi listrik dari gas hampir dua kali lipat dari gabungan angin dan surya (476 TWh vs 245 TWh).
Pencapaian ini menjadi secercah harapan di tengah peringatan Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) yang menyebutkan bahwa rekor suhu panas hampir pasti terjadi (91 persen) dalam periode 2026–2030. Tahun 2024 saja sudah mencatat suhu rata-rata global 1,5°C di atas level pra-industri. Leon Hermanson, penulis utama laporan WMO, memperingatkan bahwa fenomena El Nino yang diprediksi muncul pada akhir 2026 dapat menjadikan 2027 sebagai tahun pemecahan rekor panas berikutnya. Dampaknya sudah terasa: es Arktik mencair lebih cepat, pola curah hujan berubah drastis, kekeringan semakin parah, dan spesies mulai punah karena gagal beradaptasi.
Bagi Indonesia, perkembangan ini memiliki implikasi strategis. Negara-negara seperti China, India, Australia, dan Uni Eropa sudah mulai menekan emisi gas rumah kaca melalui efisiensi energi dan adopsi energi terbarukan. China, misalnya, memimpin ekspansi tenaga surya global pada 2025, dengan pangsa angin dan surya dalam bauran listriknya mencapai 22 persen, melampaui rata-rata negara OECD (20 persen). Sementara itu, India mencatat pertumbuhan pembangkitan energi terbarukan dua kali lipat dari rekor sebelumnya, dan untuk pertama kalinya kapasitas surya baru yang dipasang melampaui Amerika Serikat. Tren ini menunjukkan bahwa transisi energi bukan hanya milik negara maju, tetapi juga negara berkembang yang justru menjadi motor utama.
Di sisi lain, krisis iklim juga mendorong penemuan-penemuan ilmiah yang mengungkap potensi biodiversitas Indonesia. Pada 16 Mei 2026, tim peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) berhasil mendeskripsikan spesies terong baru, Solanum kalimantanense, yang diterbitkan dalam jurnal Taprobanica. Spesies ini ditemukan di Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan melalui survei lapangan yang dilakukan sejak 2022. Masyarakat setempat telah lama memanfaatkan buahnya sebagai sayur (dikenal sebagai terong dayak atau terong asam) serta daun dan kuncupnya sebagai obat tradisional untuk kanker. Peneliti BRIN, Muhammad Rifqi Hariri, menegaskan bahwa temuan ini membuktikan potensi biodiversitas Indonesia yang masih sangat besar dan belum terdokumentasi secara ilmiah.
Namun, spesies ini memiliki distribusi terbatas dan status konservasinya rentan (Vulnerable) menurut IUCN. Keberadaannya di pekarangan penduduk menunjukkan bahwa ia telah dibudidayakan secara tradisional, tetapi baru kini diakui secara ilmiah. Secara morfologi, S. kalimantanense berupa semak setinggi 0,8–1,5 meter dengan duri tajam, daun sebesar dua telapak tangan, dan buah bulat lonjong berbulu halus. Penemuan ini menjadi pengingat bahwa di balik sorotan deforestasi, hutan Kalimantan menyimpan keanekaragaman hayati yang luar biasa—modal penting bagi ketahanan pangan dan obat-obatan di masa depan.
Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia pada 5 Juni 2026, yang dipusatkan di Azerbaijan, mengusung tema "Terinspirasi oleh Alam. Untuk Iklim. Untuk Masa Depan Kita." Tema ini menekankan bahwa alam bukan sekadar korban krisis iklim, melainkan solusi dan guru terbaik. Meniru kecerdasan alam—seperti yang tercermin dalam penemuan spesies baru dan percepatan energi terbarukan—menjadi kunci untuk bertahan di tengah ancaman cuaca ekstrem. Pertanyaan yang kini mengemuka: mampukah Indonesia memanfaatkan momentum ini untuk mempercepat transisi energi dan melindungi biodiversitasnya, atau justru akan tertinggal dalam perlombaan global menuju masa depan rendah karbon?
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5525208/original/023013900_1773034243-Pramono_Sampah.jpeg)


