Pulau Sampah Muara Angke Viral, Pramono Perintahkan Pembersihan Rutin
Baca dalam 60 detik
- Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung memerintahkan pembersihan rutin di Muara Angke setelah video tumpukan sampah viral di media sosial.
- Fenomena pulau sampah ini sudah berlangsung lama karena Muara Angke merupakan muara 13 sungai yang membawa sampah dari hulu.
- Pembersihan rutin dinilai penting untuk mencegah sampah terbawa ke Kepulauan Seribu, namun pengelolaan sampah dari hulu masih menjadi tantangan.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5525208/original/023013900_1773034243-Pramono_Sampah.jpeg)
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung langsung turun tangan setelah video hamparan sampah mengapung di perairan Muara Angke, Jakarta Utara, viral di media sosial. Ia memerintahkan jajarannya untuk membersihkan tumpukan sampah tersebut secara rutin agar fenomena serupa tidak terulang.
Pramono mengungkapkan bahwa pembersihan di Muara Angke telah selesai dilakukan dan memakan waktu sekitar tiga hingga empat hari. Namun, ia menekankan pentingnya pembersihan berkala karena kawasan tersebut merupakan muara dari 13 sungai yang mengalir di Jakarta. "Saya sudah meminta untuk Muara Angke ini secara rutin untuk dibersihkan karena jangan sampai seperti kemarin yang sudah menjadi seperti pulau baru dibersihkan," ujarnya di kawasan Car Free Day Rasuna Said, Minggu (7/6/2026).
Fenomena penumpukan sampah di Muara Angke sebenarnya bukan hal baru. Pramono menjelaskan bahwa sedimentasi dan akumulasi sampah di titik ini sudah berlangsung lama. "Memang Muara Angke itu adalah tempat begitu ujung dari sungai-sungai yang ada, ada 13 sungai, salah satunya kemudian muaranya di Muara Angke. Begitu mereka keluar, selama ini mengalami pengendapan di sana dan ini sudah berlangsung lama," kata dia.
Menariknya, Pramono melihat ada sisi positif dari penumpukan sampah di Muara Angke. Tumpukan tersebut, menurutnya, berfungsi sebagai penahan alami yang mencegah sampah terbawa lebih jauh ke wilayah Kepulauan Seribu. "Ada plus-minusnya. Plusnya adalah sampah itu kemudian tidak terdorong sampai dengan Pulau Seribu. Itu adalah plusnya. Minusnya kalau tidak secara rutin dibersihkan, maka akan menjadi seperti yang kemarin, seperti pulau sampah," jelasnya.
Kejadian ini menjadi pengingat akan pentingnya pengelolaan sampah dari hulu hingga hilir. Pramono menegaskan bahwa Pemprov DKI Jakarta saat ini tengah mendorong gerakan pilah sampah di tingkat masyarakat. Tujuannya adalah menekan volume sampah yang masuk ke sungai dan berakhir di pesisir. "Pemprov DKI Jakarta saat ini juga tengah mendorong gerakan pilah sampah di tingkat masyarakat agar volume sampah yang masuk ke sungai dan berakhir di pesisir dapat terus ditekan," ujarnya.
Bagi warga Jakarta, fenomena pulau sampah ini bukan sekadar pemandangan memprihatinkan, tetapi juga cerminan dari sistem pengelolaan sampah yang belum optimal. Dengan 13 sungai yang bermuara di Muara Angke, sampah dari berbagai wilayah Jakarta terus terakumulasi di titik ini. Tanpa intervensi serius dari hulu, pembersihan rutin di hilir hanya akan menjadi solusi sementara.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah gerakan pilah sampah dan kebijakan pengelolaan limbah lainnya mampu mengubah kebiasaan masyarakat sebelum Muara Angke kembali menjadi pulau sampah? Atau akankah fenomena ini terus berulang setiap kali hujan deras mengguyur Jakarta?



