Benteng Sejarah Jepang Terancam Runtuh: Dilema Biaya dan Restorasi Kayu
Baca dalam 60 detik
- Sejumlah kastil Jepang yang dibangun ulang dengan beton pasca-Perang Dunia II kini menghadapi kerusakan struktural dan risiko gempa, memaksa pemerintah kota menutup menara utama.
- Pilihan antara memperbaiki beton atau membangun ulang dengan kayu asli memicu perdebatan panjang karena biaya kayu bisa mencapai 19,5 miliar yen dan baru rampung pada 2049.
- Okayama memilih renovasi beton dan berhasil meningkatkan jumlah pengunjung, sementara Hiroshima dan Nagoya masih terombang-ambing dalam pengambilan keputusan.

Menara kastil bersejarah di Jepang yang dibangun kembali dengan beton bertulang setelah hancur dalam Perang Dunia II kini menghadapi ancaman keruntuhan akibat usia dan kerentanan terhadap gempa, memaksa pemerintah daerah menutup akses publik dan bergulat dengan pilihan restorasi yang mahal dan kontroversial.
Kastil Hiroshima, yang menara lima lantainya dibangun ulang pada 1958 setelah bom atom, ditutup sejak Maret lalu karena dinilai tidak cukup kuat menahan guncangan. Sebuah survei pada 2019 mengungkapkan bahwa struktur beton tersebut berisiko roboh jika terjadi gempa besar. Dinding luar mulai retak dan atap bocor, menurut pejabat kota. Sebelum ditutup, kastil ini menjadi ikon wisata dan pusat budaya samurai setempat.
Pemerintah kota Hiroshima kini mempertimbangkan dua opsi: memperbaiki beton yang ada atau membangun ulang menara kayu seperti aslinya. Opsi kayu dianggap lebih autentik dan bisa bertahan semi-permanen jika dirawat, namun biayanya mencapai 19,5 miliar yen (sekitar Rp2 triliun) dan diperkirakan baru selesai pada tahun fiskal 2049. Sementara itu, perbaikan beton dinilai lebih cepat dan murah, tapi tidak mengembalikan nilai sejarah asli.
Persoalan serupa melanda kastil-kastil lain. Nagoya Castle, yang menara betonnya ditutup sejak 2018, berencana membongkar bangunan 1959 dan menggantinya dengan struktur kayu abad ke-17. Namun, rencana itu mandek karena perdebatan soal pemasangan elevator yang dikhawatirkan merusak tiang dan balok kayu asli. Sementara itu, Wakayama Castle masih beroperasi dengan pengamanan tambahan, sementara diskusi antara renovasi beton dan rekonstruksi kayu terus berlangsung.
Okayama mengambil jalan berbeda. Kota itu memilih merenovasi menara betonnya antara 2021-2022, termasuk meningkatkan ketahanan gempa, fasilitas difabel, dan pameran interaktif. Hasilnya, jumlah pengunjung naik sekitar 100.000 orang. Seorang pejabat kota mengatakan, "Menara kastil adalah simbol kota. Membiarkannya hilang, meski sementara, tidak pernah dianggap sebagai opsi." Biaya total renovasi mencapai 1,8 miliar yen.
Yoshihiro Senda, arkeolog kastil dari Nagoya City University, menilai bahwa meskipun rekonstruksi kayu sangat mahal, pengalaman yang dirasakan pengunjung akan lebih mendekati suasana asli, sehingga meningkatkan nilai intrinsik situs bersejarah. Ia menekankan pentingnya sosialisasi menyeluruh kepada publik, baik untuk rekonstruksi maupun renovasi.
Bagi Indonesia, dilema ini relevan mengingat banyak situs cagar budaya yang juga terbuat dari kayu, seperti candi dan istana kerajaan. Keputusan antara mempertahankan keaslian material dengan biaya tinggi atau memilih renovasi modern yang lebih murah namun mengurangi nilai historis menjadi tantangan serupa. Jepang menunjukkan bahwa transparansi dan edukasi publik menjadi kunci agar warisan budaya tetap lestari tanpa mengorbankan keselamatan.
Ke depan, pertanyaan mendasar tetap menggantung: apakah nilai sejarah dan pengalaman autentik sebanding dengan biaya miliaran yen dan waktu puluhan tahun? Ataukah renovasi beton yang fungsional namun kurang romantis sudah cukup untuk menjaga ikon kota tetap berdiri? Jawabannya mungkin berbeda untuk setiap kastil, namun satu hal pasti: tanpa keputusan tegas, menara-menara bersejarah itu akan terus memburuk, dan generasi mendatang mungkin hanya bisa melihatnya dalam foto.



