Beban Ganda di Pundak Konate: Duka Rekan Setim dan Sang Ayah Picu Depresi
Baca dalam 60 detik
- Bek Liverpool Ibrahima Konate mengaku mengalami depresi setelah kehilangan rekan setim Diogo Jota dan sang ayah dalam waktu berdekatan.
- Ia menekankan bahwa depresi tidak memandang status sosial atau gaji, dan penting untuk tidak malu membicarakannya.
- Kisah Konate menjadi pengingat bahwa tekanan mental di sepak bola profesional sering terabaikan, termasuk di Indonesia.

Bek Liverpool Ibrahima Konate mengungkapkan bahwa dirinya berjuang melawan depresi setelah dua peristiwa tragis menghantam hidupnya dalam waktu singkat: kematian rekan setimnya Diogo Jota dan sang ayah, Hamady. Dalam wawancara dengan France Inter, pemain asal Prancis itu menceritakan betapa beratnya beban mental yang harus ia pikul selama musim terakhirnya di Anfield.
Jota, penyerang asal Portugal, dan saudaranya Andre Silva tewas dalam kecelakaan mobil pada Juli lalu. Beberapa bulan kemudian, Hamady Konate meninggal dunia setelah menderita sakit berkepanjangan. Dua kehilangan ini membuat Konate kesulitan menemukan fokus di lapangan. "Ada titik rendah, ada depresi. Anda bisa menderita depresi di sepak bola juga; tidak perlu malu untuk mengatakannya," ujarnya.
Konate, yang dikabarkan akan bergabung dengan Real Madrid musim panas ini, mengaku bahwa kematian Jota sangat menghancurkannya. "Itu meluluhlantakkan saya. Saya tidak tertarik pada apa pun saat itu," kenangnya. Ia menambahkan bahwa pemain sepak bola sering dianggap tidak boleh depresi karena gaji besar, namun menurutnya anggapan itu keliru. "Depresi itu pribadi; ia ada di dalam diri Anda. Saat depresi, itu dimulai dari hati, naik ke otak, dan menguasai seluruh tubuh," jelasnya.
Selain duka karena Jota, Konate juga harus menanggung beban mengetahui kondisi ayahnya yang kritis. "Saya tidak tahu harus melakukan apa. Saya bingung apakah harus pulang dan berhenti bermain, karena tim juga membutuhkan saya," katanya. Ia memilih menyimpan semuanya sendiri, sebuah keputusan yang kini ia sesali. "Saran saya untuk semua orang: ketika Anda merasa terpuruk atau ada sesuatu yang terjadi, bicaralah dengan orang-orang di sekitar Anda. Itu bisa membantu," pesannya.
Konate kembali lebih awal dari cuti duka untuk membantu Liverpool yang dilanda krisis cedera pada akhir Januari. Namun, ia mengakui bahwa kondisinya tidak pernah benar-benar pulih. Ia tampil dalam 51 pertandingan di semua kompetisi musim 2025-26, 49 di antaranya sebagai starter, tetapi performanya jauh dari standar terbaiknya. Liverpool pun finis di peringkat kelima Liga Inggris.
Kisah Konate menjadi pengingat bahwa kesehatan mental atlet, terutama di sepak bola, masih kerap dianggap tabu. Di Indonesia, fenomena serupa juga terjadi. Banyak pemain lokal yang enggan membicarakan tekanan psikologis karena takut dianggap lemah atau tidak profesional. Padahal, seperti diungkapkan Konate, depresi bisa menimpa siapa saja tanpa memandang status atau penghasilan.
Konate kini bersiap membela Prancis di Piala Dunia 2026. Ia mengaku masih belum sepenuhnya pulih, tetapi berusaha bangkit demi tim dan mengenang sang ayah. "Saya tahu ayah saya pasti ingin saya kembali," tutupnya. Pertanyaannya, apakah dunia sepak bola, termasuk di Indonesia, sudah cukup siap memberikan dukungan psikologis yang layak bagi para pemainnya?



