Garuda Indonesia Wajib Beri Kompensasi pada Jemaah Haji Akibat Delay Hampir 5 Jam
Baca dalam 60 detik
- Penerbangan Garuda Indonesia kloter JKB 02 dari Jeddah ke Jakarta delay hampir 5 jam, memicu keluhan jemaah di media sosial.
- Wamenhaj Dahnil Anzar Simanjuntak memastikan Garuda akan memberikan kompensasi makanan dan minuman, serta menegur maskapai agar lebih cermat mengelola jadwal.
- Pemerintah akan mengawasi pelaksanaan kompensasi dan meminta koordinasi lebih baik jika terjadi potensi keterlambatan di masa mendatang.
Wakil Menteri Haji dan Umrah (Wamenhaj) Dahnil Anzar Simanjuntak memastikan Garuda Indonesia akan memberikan kompensasi kepada jemaah haji kloter JKB 02 yang mengalami keterlambatan penerbangan hampir lima jam dari Bandara Internasional King Abdulaziz Jeddah, Selasa malam (2/6/2026). Langkah ini diambil setelah keluhan jemaah, terutama yang lanjut usia, ramai di media sosial lantaran harus menunggu tanpa kepastian dan fasilitas yang memadai.
Pesawat yang dijadwalkan lepas landas pukul 15.55 waktu Arab Saudi baru bisa boarding pukul 22.00 dan terbang pukul 23.00. Selama masa tunggu, para jemaah mengeluhkan minimnya layanan, termasuk tidak tersedianya makan malam. Sebuah unggahan di Instagram menyoroti kondisi jemaah lansia yang terdampak, mempertanyakan komitmen maskapai terhadap hak penumpang.
Dahnil mengaku telah menghubungi manajemen Garuda untuk meminta penjelasan. Pihak maskapai beralasan keterlambatan dipicu oleh padatnya lalu lintas penerbangan di terminal haji Bandara Jeddah. Meski demikian, pemerintah menilai alasan tersebut tidak bisa menghilangkan kewajiban maskapai untuk memenuhi hak-hak jemaah selama menunggu.
Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) langsung meminta Garuda agar segera memberikan kompensasi berupa makanan, minuman, atau fasilitas lain demi menjaga kenyamanan jemaah. Dahnil menegaskan, maskapai telah menyepakati permintaan tersebut dan berkomitmen memenuhinya. "Kami sampaikan pada maskapai terkait delay itu harus ada kompensasi, baik penyediaan minum atau makanan ataupun kompensasi lain yang membuat jamaah tetap nyaman," ujarnya.
Tak hanya soal kompensasi, Dahnil juga menegur Garuda agar lebih cermat mengelola jadwal penerbangan selama fase pemulangan jemaah haji. Ia meminta maskapai meningkatkan koordinasi dengan Kemenhaj jika ada potensi perubahan jadwal, sehingga pemerintah bisa mengantisipasi dampaknya dan jemaah tidak menunggu terlalu lama. "Kalaupun terpaksa ada delay, itu bisa dikoordinasikan terlebih dahulu dengan Kementerian Haji dan Umrah supaya bisa diantisipasi," ucapnya.
Insiden ini menjadi pengingat bagi maskapai pelat merah untuk meningkatkan kualitas layanan di tengah tingginya volume penerbangan haji. Dengan jumlah jemaah yang terus bertambah setiap tahun, koordinasi yang buruk berpotensi menimbulkan ketidaknyamanan dan citra negatif. Pemerintah berjanji akan mengawasi pelaksanaan kompensasi secara ketat dan memastikan kejadian serupa tidak terulang pada kloter-kloter berikutnya.
Ke depan, pertanyaannya bukan hanya apakah Garuda mampu memenuhi kompensasi, tetapi juga apakah sistem manajemen penerbangan haji bisa diandalkan untuk mengangkut ratusan ribu jemaah tanpa hambatan berarti. Jika tidak, keluhan di media sosial bisa menjadi gelombang yang lebih besar.



