Krisis Surat Suara di Korea Selatan: 10.000 Warga Tuntut Pemilu Ulang
Baca dalam 60 detik
- Kekurangan surat suara di 50 tempat pemungutan suara memicu protes massal dan pengunduran diri ketua komisi pemilu Korea Selatan.
- Wali Kota Seoul menyebut insiden ini sebagai pelanggaran hak pilih dan mendesak pembubaran komisi pemilu serta penyelidikan jaksa khusus.
- Gelombang demonstrasi yang melibatkan YouTuber konservatif ini menguji kepercayaan publik terhadap sistem demokrasi Korea Selatan.
Lebih dari sepuluh ribu warga Korea Selatan memadati kawasan SK Olympic Handball Stadium di Seoul pada Sabtu (6/6), menuntut pemungutan suara ulang pasca-kekacauan pemilu lokal yang diwarnai kelangkaan surat suara. Aksi yang berlangsung sejak Jumat itu menjadi ujian terbesar bagi kredibilitas penyelenggara pemilu di negara demokrasi Asia Timur tersebut.
Berdasarkan laporan Yonhap News, massa yang sebagian besar merupakan pendukung kelompok konservatif dan kreator konten YouTube itu berkumpul sejak sore hari di lokasi penghitungan suara. Mereka meneriakkan yel-yel "pemilu ulang", menyanyikan lagu kebangsaan, dan mengibarkan bendera nasional. Sebagian bahkan duduk di depan gerbang stadion untuk menghalangi petugas Komisi Pemilihan Umum Nasional (NEC) keluar dari lokasi.
Krisis ini dipicu oleh kekurangan surat suara di 50 dari 14.300 tempat pemungutan suara (TPS) pada Rabu (3/6). Akibatnya, pemungutan suara di 22 TPS sempat dihentikan sementara karena keterlambatan pasokan. Ketua NEC pun mengundurkan diri sebagai bentuk tanggung jawab. Wali Kota Seoul Oh Se-hoon dalam pidato televisi mengecam insiden itu sebagai "pelanggaran hak pilih yang tidak bisa ditoleransi" dan menuntut pembubaran NEC serta penyelidikan oleh jaksa khusus.
Menurut pengamat politik Korea Selatan, insiden ini tidak hanya mengancam legitimasi hasil pemilu lokal, tetapi juga memperdalam polarisasi politik di negara tersebut. Kelompok konservatif memanfaatkan momentum ini untuk menekan pemerintah, sementara kalangan liberal mengingatkan agar tidak terjadi kekosongan kepemimpinan di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Bagi Indonesia, kasus ini menjadi pengingat pentingnya manajemen logistik pemilu yang ketat. Komisi Pemilihan Umum (KPU) Indonesia, yang tengah mempersiapkan Pemilu 2024, perlu memastikan distribusi surat suara ke daerah terpencil berjalan lancar. Kegagalan serupa di Indonesia bisa memicu protes yang lebih besar mengingat jumlah pemilih yang mencapai 200 juta jiwa.
Hingga Sabtu malam, petugas NEC yang sempat terjebak di stadion akhirnya berhasil meninggalkan lokasi. Namun, tuntutan pemilu ulang masih bergema. Pertanyaan besarnya: akankah pemerintah Korea Selatan mengabulkan tuntutan tersebut, atau justru memperkuat sistem pengawasan pemilu untuk mencegah krisis serupa di masa depan?


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8134786/original/084915400_1780986791-35671.jpg)