Alphabet Rombak Pimpinan AI: Hassabis Jadi Chief Scientist, Sejumlah Tokoh Kunci Hengkang
Baca dalam 60 detik
- Demis Hassabis beralih dari CEO DeepMind menjadi chairman dan chief scientist Alphabet, fokus pada riset AGI.
- Empat insinyur senior Google, termasuk Jeff Dean, keluar untuk mendirikan startup riset Discovery Loop.
- Kekosongan kepemimpinan terjadi di tengah persaingan ketat dengan OpenAI dan Anthropic yang merekrut talenta Google.

Alphabet, perusahaan induk Google, mengumumkan perombakan besar-besaran dalam jajaran kepemimpinan divisi kecerdasan buatan (AI) pada Rabu (5/8). Demis Hassabis, peraih Nobel yang selama ini menjabat sebagai CEO Google DeepMind, akan mengemban peran baru sebagai chief scientist Alphabet dan chairman Google DeepMind. Langkah ini diambil di tengah tekanan persaingan yang semakin ketat dengan OpenAI dan Anthropic, yang berhasil merekrut sejumlah ilmuwan top Google.
Perombakan ini terjadi saat Google DeepMind belum juga merilis versi flagship dari model Gemini terbarunya, yang seharusnya diluncurkan pada Juni lalu. Keterlambatan ini memicu kekhawatiran investor dan pelaku industri bahwa Google tertinggal dari para pesaingnya. Saham Alphabet sempat merosot 4 persen setelah kabar ini merebak.
Dalam memo internal yang dilihat Reuters, Hassabis menyebut kedekatan dengan tercapainya kecerdasan umum buatan (AGI) sebagai alasan peralihan perannya. AGI sendiri merujuk pada kondisi di mana komputer memiliki kecerdasan setara manusia. "Saya dan Demis telah lama berdiskusi tentang peran yang memungkinkannya fokus penuh dalam membentuk masa depan AGI," ujar CEO Alphabet, Sundar Pichai, dalam memo terpisah. Pichai menegaskan bahwa pekerjaan ini sangat penting bagi Alphabet dan umat manusia.
Koray Kavukcuoglu, yang sebelumnya menjabat sebagai chief technology officer Google DeepMind, akan mengambil alih tanggung jawab operasional sehari-hari dengan gelar senior vice president. Sementara itu, empat nama besar di dunia riset AI GoogleโJeff Dean, Sanjay Ghemawat, Oriol Vinyals, dan Quoc Leโmemutuskan hengkang untuk mendirikan startup bernama Discovery Loop. Perusahaan baru ini akan berfokus pada riset terobosan di bidang machine learning, sains, dan teknik, serta berbadan hukum public benefit corporation.
Kepergian para ilmuwan ini merupakan pukulan telak bagi Google. Jeff Dean, misalnya, adalah sosok legendaris yang ikut mendirikan Google Brain pada 2011 dan berperan besar dalam proyek infrastruktur penting perusahaan. Oriol Vinyals dan Quoc Le juga dikenal luas karena kontribusinya pada pengembangan model Gemini. Sebelumnya, pada Juni lalu, Noam Shazeer, salah satu pemimpin pengembangan Gemini, juga hengkang ke OpenAI. John Jumper, peraih Nobel Kimia 2024 yang bekerja sama dengan Hassabis, juga memilih bergabung dengan Anthropic pada pekan yang sama.
Bagi Indonesia, dinamika ini memiliki implikasi yang signifikan. Persaingan ketat di antara raksasa AI global akan mendorong inovasi yang lebih cepat, yang pada akhirnya dapat dinikmati oleh pengguna di Indonesia melalui produk-produk AI yang lebih canggih dan terjangkau. Namun, perang talenta ini juga menunjukkan bahwa sumber daya manusia di bidang AI menjadi sangat krusial. Indonesia, yang tengah giat mengembangkan ekosistem digital, perlu memastikan ketersediaan talenta AI lokal agar tidak tertinggal dalam peta persaingan global.
Hassabis sendiri menegaskan komitmennya untuk memanfaatkan AI bagi kemanusiaan. "Saya selalu percaya aplikasi nomor satu AI adalah untuk meningkatkan kesehatan manusia," katanya. Ia berencana meluangkan lebih banyak waktu untuk Isomorphic Labs, perusahaan penemuan obat yang ia dirikan dan merupakan spin-off dari DeepMind. "Sudah waktunya AI membuktikan nilainya yang tak terbantahkan bagi dunia, dan cara terbaik untuk menunjukkan itu adalah membantu menyembuhkan penyakit seperti kanker," tambahnya.
Langkah Alphabet ini menjadi sinyal bahwa fokus pengembangan AI tidak lagi semata-mata pada kemampuan komputasi, tetapi juga pada dampak sosial dan kesehatan. Pertanyaannya, apakah perombakan ini akan cukup untuk mengembalikan kepercayaan investor dan memenangkan perlombaan AI yang semakin sengit? Atau justru akan semakin mempercepat arus keluar talenta dari Google? Hanya waktu yang bisa menjawab.



