Mumi Ötzi Bukan Sekadar Fosil: Tubuhnya Jadi 'Kampung' Mikroba Hidup Selama 5.300 Tahun
Baca dalam 60 detik
- Penelitian terbaru mengungkap tiga komunitas mikroba berbeda di tubuh mumi Ötzi: bakteri usus kuno, mikroba glasial, dan kontaminasi modern dari museum.
- Mikroba usus Ötzi mencerminkan pola makan tinggi serat era prasejarah, yang kini hampir punah dari saluran cerna manusia modern akibat industrialisasi pangan.
- Temuan ini memicu perdebatan baru dalam konservasi: praktik penyemprotan air untuk menjaga kelembaban justru mengubah ekosistem mikroba asli mumi.
Lebih dari lima milenium setelah tewas dengan anak panah tertancap di bahu kiri di pegunungan Alpen, Ötzi the Iceman masih menyimpan kehidupan—bukan dalam bentuk kesadaran, melainkan sebagai ekosistem mikroba yang dinamis. Studi paling komprehensif terhadap lanskap mikroba mumi berusia 5.300 tahun ini mengungkap bahwa tubuhnya menjadi rumah bagi tiga dunia mikroba berbeda: bakteri usus yang setia sejak ia hidup, mikroorganisme dingin dari gletser tempat ia terbaring, serta kuman modern yang masuk selama tiga dekade perawatan museum.
Dipimpin oleh ahli mikrobiologi Mohamed Sarhan dari Eurac Research di Bolzano, Italia, riset yang dimuat di jurnal Microbiome ini menganalisis sampel dari berbagai jaringan Ötzi yang dikumpulkan selama lebih dari 30 tahun. Hasilnya mengejutkan: mumi tertua Eropa yang ditemukan secara alami ini bukanlah artefak mati, melainkan "antarmuka biologis hidup" tempat mikroba dari zaman Tembaga berbaur dengan organisme yang baru tiba beberapa dekade lalu. "Tubuhnya menampung organisme yang aktif secara metabolik dan merespons lingkungannya," ujar Sarhan.
Bagi arkeologi dan sejarah manusia, bakteri usus kuno Ötzi menjadi jendela langka menuju ekosistem usus manusia prasejarah—sebelum revolusi industri, antibiotik, dan makanan olahan mengubah total komposisi mikrobioma. Bakteri yang ditemukan di saluran pencernaannya terkait dengan diet kaya serat yang nyaris tidak ditemukan lagi pada masyarakat Barat modern. "Ötzi menunjukkan apa yang telah hilang, dan potensi yang mungkin ingin kita pulihkan demi kesehatan," kata Sarhan.
Namun, temuan ini juga menghadirkan teka-teki: apakah bakteri usus kuno itu masih aktif secara biologis? Sarhan menjelaskan bahwa DNA bakteri tersebut menunjukkan kerusakan kimiawi yang konsisten dengan degradasi ribuan tahun, menandakan keasliannya. Namun, aktivitas metabolik selnya belum bisa dipastikan hanya dari analisis DNA. "Yang jelas, mereka terawetkan dengan luar biasa di lingkungan anaerobik usus selama lebih dari lima milenium," tambahnya.
Dari sisi konservasi, keberadaan ragi penyuka dingin yang aktif tumbuh di tubuh Ötzi—disimpan pada suhu -6°C untuk meniru kondisi glasial—menimbulkan pertanyaan serius tentang integritas jangka panjang mumi. Lebih mengkhawatirkan lagi, air semprot yang digunakan untuk menjaga kelembaban justru memperkenalkan bakteri modern yang mendominasi permukaan luar tubuhnya. "Konsekuensi dari praktik konservasi ini sebelumnya tidak disadari," ungkap Sarhan.
Penelitian sebelumnya mengungkap bahwa Ötzi, yang tewas di usia sekitar 45 tahun, memiliki fisik kuat dan makanan terakhirnya berupa daging rusa, kambing, serta gandum. Ia membawa kapak tembaga, busur panjang, anak panah, belati batu, dan ransel, serta memiliki tato geometris di tubuhnya. Kini, dengan penemuan ini, Ötzi tidak hanya menjadi saksi bisu masa lalu, tetapi juga laboratorium hidup yang mengingatkan betapa rentannya warisan budaya terhadap intervensi modern. Pertanyaan selanjutnya: bisakah kita melestarikan mumi tanpa secara tak sengaja menghancurkan ekosistem mikroba yang justru menjadi bagian dari identitasnya?



